Cara Membuat Kimchi - How to Make Kimchi

Cara Membuat Kimchi - How to Make Kimchi

Kata kunci: resep masakan

Keywords: recipe, korean, rice, make, fried rice, jjigae, restaurant, blue, ramen, sauce, vegan, recipes, chicken, korean recipe, maangchi, stew, benefits, noodles, sushi, pancake, barbecue nashville, zupa, how to make stew, maken, costco, rezept, nedir, drama, maangchi recipe, jigae, soup recipe, bokkeumbap, kaufen, the project, que es, fried rice, nutrition facts, how long does last, barbecue, bremen, benefits

RESEP KIMCHI HALAL – Apakah kamu penyuka yang berbau Korea Korea gitu? Suka sama boy band Korea? Atau mungkin gaya berpakaiannya? Kalau kamu suka sama yang berbau Korea, kurang lengkap deh kalau nggak nyobain makanan khas Korea yitu kimchi untuk awak kimchi soup, kimchi korea .

Sebenernya ada banyak makanan khas Korea, misalnya kayak bulgogi, teokbokki, kimchi dan kawan-kawannya. Kalau kamu emang suka sama Korea, harusnya cobain juga tuh makanan dari sana. Nyari menu Korea juga nggak sulit kok, sekarang udah banyak restoran yang menyajikan menu khusus Korea.

Tapi, buat kamu yang berkantong tipis mending coba bikin aja sendiri di rumah. Nah, karena yang paling umum dari makanan Korea itu kimchi, mending kamu bikin makanan yang satu ini aja.

What is Kimchi? Kimchi adalah salah satu makanan khas Korea yang membuatnya dengan cara difermentasi. Rasanya agak asam karena hasil fermentasi, tapi enak kok, asam-asam sedap gitu. Kimchi juga terbuat dari sayuran, jadi pastilah gizinya baik buat tubuh kamu.

Kalau di negara asalnya, biasanya kimchi disantap saat musim dingin. Orang Korea kadang membeli di pasar untuk persediaan kimchi saat musim dingin. Tapi ada juga yang membuat sendiri dirumah, selain lebih murah, cara membuatnya pun tidak terlalu sulit kok.

Mending kamu juga siap-siap buat beli bahan karena kita sekarang mau bikin kimchi. Tapi siapin dulu catatan kalau nggak ya bawa smartphone dan tetep stay di sini.

Bahan

1 buah sawi putih ukuran besar

1/2 batang lobak putih yang sudah diiris memanjang

4 batang daun bawang yang sudah diiris

4 siung bawang putih yang sudah dihaluskan

1 ruas jahe yang sudah dihaluskan

6 sdm bubuk cabe, kalau ada ya pakai bubuk cabe Korea

2 sdt garam

1 sdm gula pasir

1/2 gelas garam kasar

2 sdm saus ikan, kalau ada ya saus ikan dari Korea

Air secukupnya

Bumbu kimchi

Cara Membuat Kimchi

Cuci sawi hingga bersih sampai ke dalam-dalamnya, sisihkan.

Tuang 1/2 gelas garam kasar kedalam wadah yang berisi air.

Masukkan sawi ke dalam wadah tersebut, rendam dan biarkan selama kurang lebih 6 jam.

Setelah 6 jam, cuci kembali sawi sampai ke dalam-dalamnya. Kalau mau dipotong jadi dua bagian juga boleh, sisihkan.

Siapkan bumbu, campurkan bawang putih, jahe, daun bawang, lobak, saus ikan, gula, bubuk cabe dan sedikit garam.

Balurkan bumbu secara merata ke sawi, usahakan sampai ke dalam-dalamnya, semua permukaan sawi terkena bumbunya. Saat membaluri sawi agak sedikit diremas-remas agar bumbunya meresap.

Taruh sawi yang sudah dibumbui kedalam wadah yang tertutup rapat, kalau ada toples kaca lebih bagus.

Diamkan selama dua hari untuk proses fermentasinya.

Setelah dua hari, kimchi siap untuk disajikan.

Nah, itu tadi cara membuat kimchi sendiri. Kamu bisa mencobanya di rumah atau mungkin di tetangga, selamat mencoba.


Resep Olahan Kimchi

Setelah kamu berhasil membuat kimchi, sekarang mending kita buat olahan yang bahannya juga menggunakan kimchi yuk.


1. Nasi Goreng Kimchi


Resep yang pertama adalah nasi goreng kimchi, menu ini kalau di Korea bernama kimchi bokkeumbap. Nasi goreng kimchi merupakan makanan khas Korea sederhana yang biasa disajikan di rumah.

Tapi, kalau kamu ke rumah makan yang menjual berbagai jenis masakan Korea, menu ini biasanya juga akan ada di sana.

Dari pada makanan di restoran yang lumayan nguras kocek kita, gimana kalau bikin sendiri aja? Sekalian eksperimen dan melatih skill kamu memasak, siapa tahu hasilnya memuaskan. Bisa dikasih juga ke si dia biar makin cinta. 🙂


Bahan Nasi Goreng Kimchi

1 cangkir kimchi yang sudah ditiriskan dan dipotong sesuai selera

1/2 buah bawang bombay yang sudah dicincang halus

1 siung bawang putih yang sudah dicincang halus

1 sendok makan kecap manis

1 sendok makan mentega atau margarin

Daging sapi atau sosis sapi yang sudah diiris tipis

3 piring nasi putih

3 butir telur ayam yang sudah digoreng

Garam secukupnya

Cara Membuat Nasi Goreng Kimchi

Tumis daging sapi atau sosis, setelah itu singkirkan. Tapi, kamu juga bisa nggak pakai daging atau sosis, sesuai selera aja.

Tumis kimchi bersama dengan bawang bombay di atas wajan yang sudah diolesi dengan mentega. Tumisnya pakai api kecil ya, sampai tercium bau wangi.

Setelah tercium bau wangi dan sayuran mulai tampak layu, tambahkan 1/2 sendok makan mentega, bawang putih, dan kecap manis. Tumis lagi selama kurang lebih 3 menit.

Masukkan daging sapi yang sudah ditumis sebelumnya, tumis kembali sampai daging benar-benar matang.

Setelah itu, matikan api, dan biarkan masakannya tetap di atas kompor.

Masukkan nasi dan sisa mentega yang sudah disiapkan ke dalam kimchi yang sudah dimasak dengan bahan lainnya. Aduk sampai semua bahan tercampur dengan rata, jangan lupa tambahkan garam dan aduk lagi.

Nasi goreng kimchi siap disajikan bersama dengan telur goreng.

Nah, itu tadi resep nasi goreng kimchi sederhana yang bisa kamu coba buat sendiri. Kamu bisa menikmati nasi goreng ini dengan kerupuk, maklum orang Indonesia, hehe.


2. Sup Kimchi

Sup kimchi atau kimchi soup ini, di negara asalnya, Korea Selatan, biasa dikenal dengan nama kimchi guk. Menu ini sangat enak jika disantap saat cuaca dingin karena sup kimchi paling enak dimakan hangat-hangat.


Bahan Sup Kimchi

2 cangkir kimchi yang sudah dipotong kecil-kecil

1,5 cangkir daging sapi yang sudah dipotong kecil-kecil

2 sendok makan pasta cabe atau nama Korea-nya gochujang

1 sendok makan gula pasir

2 cangkir air

2 batang daun bawang yang sudah dipotong kasar

200 gram tahu putih yang sudah dipotong dadu


Cara Membuat Sup Kimchi

Setelah semua bahan siap, campurkan kimchi bersama dengan airnya, pasta cabe, daging sapi, dan gula pasir ke dalam panci. Setelah semua tercampur rata,tutup panci dan masak sampai mendidih.

Setelah mendidih, masukkan tahu putih dan masak kembali sekitar 10 menit di atas api kecil.

Setelah 1- menit, tambahkan daun bawang, diamkan sebentar, lalu matikan api.

Sup kimchi siap dihidangkan.

Itu tadi resep sup kimchi yang bisa kamu coba. Sup kimchi ini paling enak dimakan bersama dengan nasi hangat.
Read More »

Cara memikat hati si doi, baik itu wanita, pria, lelaki, cowok, perempuan, cewek, suami, laki laki,

Disini saya menyampaikan tentang Cara memikat hati si doi, baik itu wanita, pria, lelaki, cowok, perempuan, cewek, suami, laki laki, terserah anda yang penting si doi.

Berbicara tentang hati harus berhati-hati pasalnya hati adalah qalbu yang berarti mudah berbolak-balik atau berubah. Dalam hitungan detik saja hati seseorang dapat berubah 180 derajat.

Berbicara tentang hati juga tidak lepas dengan yang namanya perasaan. Ketika hati sudah berbicara, maka perasaan akan mengikutinya. Perasaan menurut hemat saya adalah emosi. Baik itu emosi positif maupun emosi negatif.

Jika hati mengatakan suatu objek yang dilihat adalah baik, maka perasaan atau emosi yang timbul adalah mengagung-agungkan objek yang dianggapnya baik. Begitu juga sebaliknya, jika hati mengatakan bahwa objek yang dilihatnya adalah tidak baik, maka yang akan timbul adalah perasaan yang menganggap objek tersebut tidak bernilai.

Baiklah sekarang anda sudah tahu bahwa emosi positif adalah target anda, karena dengan memunculkan emosi positif tersebut anda dapat lebih mudah memikat hati si doi.

Jadi intinya, untuk memikat hati si doi anda harus mampu menciptakan emosi positifnya.

Nah sekarang muncul pertanyaan, bagaimana cara menciptakan emosi positif si doi?

Oke, mari simak pembahasan berikut ini.

Emosi positif adalah berasal dari ungkapan hati yang baik. Dan perlu anda ketahui bahwa hati mampu membedakan antara sesuatu yang baik dan sesuatu yang tidak baik. Maka langkah yang harus anda lakukan adalah mencontohkan hal-hal atau perbuatan yang menurut anda baik dan juga dianggap baik oleh orang lain. sebenarnya lebih tepatnya adalah unjuk diri atau menunjukkan sesuatu perbuatan yang baik dan dilihat oleh si doi, sehingga dia simpatik atau bahkan empatik dengan sikap baik yang anda lakukan.

Sebelum anda melakukan hal tersebut alangkah baiknya anda mengamati gerak-gerik si doi, mengamati sikapnya, kekurangannya, kelebihannya dan sebagainya. Dengan mengetahui semuanya tentang dia, maka artinya anda sudah punya modal yang cukup untuk meluluhkan hati si doi. Anda dapat mengukur sejauhmana anda harus melangkah dan kapan harus berhenti. Kalau dalam bahasa bisnisnya adalah analisis swot :D (red)

Setelah anda dapat menganalisis semuanya, sekarang saatnya anda untuk mengeksekusinya dengan melakukan hal-hal yang membuat si doi terpana dan baper.

Nah.. demikianlah cara untuk memikat hati si doi. Semoga bermanfaat
Read More »

Apa itu Komitmen, Arti Kata Komitmen, dan Pengertian komitmen

Apa itu Komitmen,  Arti Kata Komitmen, dan Pengertian komitmen?

Komitmen adalah hal yang bersifat fleksibel mengikuti apa yang telah anda tetapkan. Baik anda menetapkan sendiri maupun anda menetapkannya dengan melibatkan orang lain.

Contoh sederhananya adalah ketika anda menetapkan ingin bekerja keras, siang malam demi masa depan yang lebih cerah. Ingin bekerja siang malam adalah termasuk komitmen sendiri tanpa melibatkan orang lain, karena anda menetapkannya tanpa disaksikan oleh orang lain dan tujuannya adalah untuk diri sendiri.

Contoh yang lebih komplek adalah ketika anda menyatakan perasaan cinta kepada seseorang yang anda cintai. Kemudian dia dengan senang hati menerimanya dan dia juga membalas pernyataan cinta anda. Ini adalah komitmen yang melibatkan orang lain, karena pernyataan penetapan anda disaksikan oleh orang lain dan mwlibatkan orang lain untuk berkomitmen.

Memang jika kita lihat pernyataan tersebut bersifat sederhana, karena anda hanya menyatakan satu kalimat saja. Tetapi, ternyata di dalam pernyataan tersebut mengandung banyak komitmen yang harus anda pertahankan bahkan sampai penghabisan nafar anda.

Nah disini saya akan membahas lebih dalam lagi tentang komitmen yang melibatkan orang lain ini.

Di dalam pernyataan pada kasus kedua tersebut secara tidak langsung anda menetapkan komitmen-komitmen yang harus anda jaga sampai mati. Ketika anda menyatakan cinta kepada seseorang, maka anda harus menjaga perasaannya karena cinta itu bukan penyiksaan. Tapi rasa kasih sayang yang membuat dia nyaman.

Beberapa komitmen yang harus anda jaga adalah sebagai berikut:

1. Tidak mendekati orang lain seperti halnya anda mendekati dia.

2. Tidak menyamakan atau membandingkan kelebihan orang lain dengan kelebihannya. Terlebih lagi orang lain tersebut lebih unggul daripadanya.

3. Menahan diri untuk mengagumi orang lain yang lebih menarik daripadanya.

4. Mengetahui kemauannya

5. Dsb.

Semua itu harus anda ketahui dan dijaga sampai mati atau minimal sampai dia menemukan jodohnya.

Terlihat sederhana tapi ternyata berat sekali kan?

Komitmen seperti ini tentunya membutuhkan kesabaran yang ekstra, benteng pertahanan yang kuat, dan berbagai macam peralatan tempur lainnya. Karena di luar sana godaan pasti akan berbanding lurus dengan pertahanan anda. Sedikit saja anda lengahmaka habislah riwayat anda.

Belum lagi jika komitmen anda adalah komitmen adalah komitmen organisasi, dsb tentunya akan lebih berat lagi.

Nah.. demikianlah sebuah komitmen yang harus anda jaga sampai mati.

Semoga bermanfaat.:)
Read More »

Pola Wilayah Negara Maju dan Negara Berkembang

 Pola Wilayah Negara Maju dan Negara Berkembang Gambar ilurstrasi maju dan berkembang

Setelah mempelajari bab ini, kamu diharapkan mampu:

· Menganalisis ciri-ciri negara maju dan negara berkembang

· Mengidentifikasi negara-negara maju dan berkembang berdasarkan ciri-cirinya

· Menganalisis model perkembangan wilayah di negara maju dan negara berkembang, serta

· Menganalisis usaha pengembangan wilayah di Indonesia

Pertumbuhan pada setiap wilayah negara berbeda-beda. Negara yang memiliki kemampuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan cepat, akan tumbuh menjadi negara maju. Sedangkan, negara yang kemampuannya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih lambat, akan tumbuh menjadi negara berkembang karena masih terus mengalami perkembangan.

Dalam bab ini akan dibahas mengenai ciri-ciri negara maju dan berkembang, beberapa negara maju dan negara berkembang di dunia, model pengembangan wilayah di negara maju dan negara berkembang, serta usaha pengembangan wilayah di Indonesia.

Baca materi sebelumnya Konsep Wilayah, Pewilayahan, dan Pertumbuhan

A. Ciri-ciri negara maju dan negara berkembang

Kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki oleh kelompok manusia berbeda-beda. Ada kelompok manusia yang memiliki pengetahuan dan kemampuan mengembangkan teknologi yang sudah tinggi. Adapula kelompok manusia yang kemampuan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya masih sederhana, bahkan terbatas. Kelompok manusia yang memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi dapat memanfaatkan kekayaan alam secara lebih intensif. Sementara itu, kelompok manusia yang hanya memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terbatas tentu saja memiliki keterbatasan dalam memanfaatkan sumber daya alamnya. Semakin tinggi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, akan semakin tinggi pula kemampuan mengelola sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan hidup manusia.

Adanya perbedaan tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi inilah yang memunculkan istilah negara maju, negara berkembang, dan negara belum berkembang.



B. Beberapa negara maju dan negara berkembang di dunia

Beberapa negara maju di dunia

1. Amerika Serikat dan Kanada

2. Inggris Raya (United Kingdom)

3. Jerman

Beberapa negara berkembang di dunia

1. Cina

2. Brasil

3. Nigeria

C. Model pengembangan wilayah di negara maju dan berkembang

Pengembangan wilayah di negara maju

Pengembangan wilayah di negara berkembang

D. Usaha pengembangan wilayah Indonesia

Penyediaan pelayaran

Penyediaan penerbangan

Upaya lainnya yang juga dilakukan dalam kaitan pengembangan wilayah adalah penetapan master plan pengembangan wilayah mulai dari tingkat pusat hingga daerah, misalnya rencana tata ruang wilayah (RTRW) serta adanya peraturan membuat bangunan. Ketika penduduk ingin membangun rumah atau bangunan-bangunan untuk kepentingan tertentu, mereka harus mengajukan izin membangun yang disebut izin membangun bangunan (IMB).

Bentuk pengembangan wilayah juga dilakukan berdasarkan pendekatan-pendekatan khusus. Misalnya, pengembangan wilayah perkotaan, pengembangan wilayah pedesaan, wilayah atau daerah aliran sungai (DAS), pusat-pusat pertumbuhan, atau wilayah agropolitan.

Setelah mempelajari bab ini, tentu kamu telah mampu membedakan ciri negara maju dan negara berkembang. Kamu juga sudah mampu menganalisis model perkembangan wilayah di negara maju dan negara bekembang.

Dengan berakhirnya bab ini maka berakhir pula keseluruhan materi geografi. Setelah mempelajari semuanya diharapakn kamu mampu menerapkan konsep geografi yang telah kamu pelajari, dalam kehidupan sehari-hari.

Kembali Ke daftar Isi  Baca Geografi
Read More »

Konsep Wilayah, Pewilayahan, dan Pertumbuhan

Konsep Wilayah, Pewilayahan, dan Pertumbuhan 

gambar pertumbuhan

Pada bab ini, kamu diharapkan mampu:

· Menganalisis konsep wilayah formal dan fungsional

· Menganalisis konsep perwilayahan berdasarkan fenomena geografis

· Mengidentifikasi pusat pertumbuhan

· Mengidentifikasi batas wilayah pusat pertumbuahan, serta

· Menjelaskan penerapan konsep perwilayahan di Indonesia

Kondisi geografis suatu wilayah menyebabkan perbedaan antara wilayah satu dengan lainnya. Perbedaan ini menyebabkan keadaan pembangunan tiap wilayah berbeda-beda. Seperti Indonesia bagian barat yang lebih maju pembangunannya, dibandingkan dengan Indonesia bagian timur.

Dalam bab ini kamu akan mempelajari mengenai wilayah formal dan fungsional, perwilayahan berdasarkan fenomena geografis, pusat dan batas wilayah pusat pertumbuhan, serta penerapan konsep perwilayahan di Indonesia.

 Baca Materi Sebelumnya Pola Keruangan Desa dan Kota

A. Wilayah formal dan fungsional

Wilayah (region) merupakan ruang geografi dari permukaan bumi yang memiliki karakteristik khas tertentu yang membedakannya dari wilayah-wilayah lain di sekitarnya. Wilayah memiliki ukuran bervariasi, dari yang sangat luas hingga yang sempit. Wilayah terdiri atas berbagai komponen yang meliputi komponen biotik, abiotik, dan komponen kultural (budaya).

Komponen biotik wilayah meliputi manusia, hewan, dan tumbuhan. Komponen abiotik meliputi tanah, air, dan udara. Komponen budaya meliputi kebudayaan dan teknologi. Adapun karakteristik khas yang dimiliki suatu wilayah dapat berupa aspek fisik, permukaan bumi, dan kebudayaan. Karena itulah setiap wilayah memiliki homogenitas tertentu. Dengan demikian, suatu wilayah (religion) adalah suatu kompleks keruangan atau teritorial yang terdiri atas penyebaran berbagai gejala yang berbeda satu sama lain yang mengungkapkan aspek keruangan muka bumi secara keseluruhan.

Wilayah sebagai suatu kesatuan alam yang seragam atau kesatuan masyarakat dengan kebudayaan yang khas digunakan sebagai kriteria untuk penggolongan wilayah. Berdasarkan karakteristik wilayahnya, penggolongan wilayah dapat dilakukan dengan mengacu pada keadaan alam dan tingkat kebudayaannya. Penggolongan wilayah menurut keadaan alam dibedakan lagi menjadi tiga, yaitu menurut iklim, relief, dan sebaran vegetasi. Penggolongan wilayah menurut iklim, misalnya wilayah tropis dan wilayah subtropis. Penggolongan wilayah menurut relief, misalnya wilayah dataran rendah, wilayah dataran tinggi, wilayah pegunungan, dan wilayah pantai. Penggolongan wilayah menurut sebaran vegetasi, misalnya hutan hujan tropis, wilayah sabana, dan wilayah hutan tropis. Adapun penggolongan wilayah menurut tingkat kebudayaan, misalnya wilayah permukiman, wilayah agraris, wilayah pertanian, dan wilayah perkotaan.

Konsep wilayah (regional) sebagai metode atau pendekatan, dikembangkan dengan mempelajari gejala geografis dalam interelasi dan interaksi keruangan berdasarkan kerangka penyebaran, kejadian, dan pertumbuhan di permukaan bumi. Dengan menggunakan pendekatan regional, maka wilayah dapat dibedakan menjadi wilayah formal (uniform region = wilayah seragam) dan wilayah fungsional (nodal region = wilayah nodal).

Wilayah formal

Wilayah formal adalah wilayah geografis yang memiliki keseragaman atau kesamaan kriteria tertentu. Misalnya, wilayah pertanian dimana terdapat keseragaman atau kesamaan antara petani dengan daerah pertanian. Kesamaan ini menjadi sifat yang dimiliki oleh elemen-elemen yang membentuk wilayah. Pada awalnya, kriteria yang digunakan bersifat alamiah (fisik), misalnya jenis vegetasi, topografi, dan iklim. Kemudian, kriteria tersebut berkembang dengan adanya kriteria seperti ekonomi, industri, bahkan politik.

Wilayah fungsional

Wilayah fungsional adalah suatu wilayah yang dalam banyak hal diatur oleh beberapa pusat kegiatan yang saling berhubungan dengan garis melingkar. Misalnya, nodal (fungsional) kota yang diatur oleh beberapa pusat kegiatan yang saling dihubungkan oleh jaringan jalan dan nodal desa yang berperan sebagai hinterland. Wilayah fungsional lebih bersifat dinamis dibandingkan dengan wilayah formal.

Antara wilayah kota dan desa akan terbentuk interaksi desa-kota. Bersama dengan keadaan alam dan tingkat kebudayaan interaksi desa-kota memengaruhi perencanaan pembangunan wilayah.

B. Pewilayahan berdasarkan fenomena geografis

Di seluruh wilayah permukaan bumi terjadi berbagai fenomena geografis. Feomena-fenomena tersebut dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kriteria tertentu sehingga dapat dibedakan antara wilayah satu dengan wilayah lain. misalnya, desa nelayan, desa industri, kota pelajar, wilayah iklim B, atau daerah hutan tropis.

Proses pengklasifikasian wilayah (region) dalam geografi telah dikembangkan sejak lama. Pengklasifikasian tersebut dikenal dengan istilah regionalisasi (pewilayahan). Pengklasifikasian wilayah dilakukan dengan menggunakan fenomena-fenomena geografis seperti interaksi penduduk dengan lingkungan, vegetasi, iklim, dan budaya.

Pada mulanya, pengklasifikasian wilayah hanya didasarkan pada kriteria alamiah yang disebut dengan wilayah alamiah (natural region). Selain itu, terdapat juga pengklasifikasian berdasarkan penampakan tunggal yang disebut wilayah penampakan tunggal (single feature region) seperti iklim, vegetasi, atau hewan. Kemudian, sebagaimana dijelaskan dalam buku Geographical assosiation, pengklasifikasian wilayah dibedakan menjadi klasifikasi wilayah menurut jenis (generic region) dan klasifikasi wilayah menurut pengkhususan (specific region).

Klasifikasi wilayah menurut jenis (generic region) terutama menekan kepada jenis (kriteria) tertentu. Misalnya, pada wilayah iklim, yang ditekan adalah jenis iklimnya. Pada klasifikasi ini fungsi wilayah kurang diperhatikan.

Klasifikasi wilayah menurut pengkhususan (specific region) merupakan daerah tunggal. Wilayah ini mempunyai ciri-ciri geografi khusus yang terutama ditentukan oleh lokasi, penduduk, budaya, bahasa, adat istiadat, dan kaitannya dengan daerah lain, misalnya wilayah Asia Tenggara, wilayah Eropa Barat, atau wilayah Waktu Indonesia bagian Timur.

Wilayah dapat juga dibedakan secara hierarki (urutan), karena itu, kita mengenal adanya wilayah kecamatan, wilayah kelurahan, wilayah provinsi.

C. Pusat dan batas wilayah pusat pertumbuhan

Pusat Pertumbuhan

Konsep pewilayahan yang sekarang masih dikembangkan yaitu konsep pewilayahan menggunakan metode statistik deskriptif dan metode statistik analitik, terutama analisi faktor (factor analysis). Dengan menggunakan kedua metode tersebut, penentuan wilayah menjadi semakin teliti. Untuk dapat menentukan wilayah dengan metode analisis faktor terlebih dahulu harus mengumpulkan bermacam-macam data. Misalnya, untuk menentukan jenis wilayah yang cocok untuk tanaman padi sawah dikumpulkan data tentang kedalaman tanah, drainase, pH tanah, jenis tanah, dan kandungan hara. Seluruh data yang terkumpul kemudian akan diproses sehingga diperoleh daerah yang cocok untuk penanaman padi sawah.

Suatu wilayah dikatakan sebagai pusat pertumbuhan apabila wilayah tersebut memiliki perkembangan dan pertumbuhan yang sangat cepat, pembangunan serta kegiatan ekonomi yang sangat menonjol, dan dapat memberikan pengaruh terhadap wilayah atau daerah sekitarnya. Perkembangan ekonomi yang terjadi dapat dapat dalam bentuk memberikan peluang kerja di berbagai sektor dan adanya gerakan atau barang yang membawa dampak terhadap alat transportasi, perdagangan, dan jasa.

Perubahan sosial budaya masyarakat dapat terjadi dalam bentuk adanya motivasi masyarakat untuk berlomba memiliki pengetahuan dan ketrampilan. Perubahan sosial budaya tersebut juga dapat terjadi dalam bentuk kompetisi untuk mencari pekerjaan, serta akulturasi dan asimilasi nilai-nilai budaya.

Setiap wilayah atau daerah memiliki potensi untuk berkembang dan menjadi pusat pertumbuhan apabila dipengaruhi oleh hal-hal berikut ini.

1. Kondisi geografi (tata air, kondisi iklim, dan bentuk medan)

2. Potensi sumber daya alam (mineral dan energi)

3. Potensi sumber daya manusia (pendidilkan, pendapatan, kesehatan, dan ketrampilan)

4. Jaringan transportasi (jenis dan fasilitas)

Berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas, terdapat beberapa pandekatan yang dilakukan untuk mengidentifikasi pusat-pusat pertumbuhan suatu wilayah. Beberapa pendekatan yang sering digunakan adalah berdasarkan potensi wilayah setempat, teori tempat sentral, dan teori kutub pertumbuhan.

1. Pusat pertumbuhan potensi wilayah

Setiap wilayah memiliki potensi untuk dikembangkan, baik alam maupun manusianya. Misalnya, panorama alam yang terdapat di suatu daerah merupakan potensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata. Hal tersebut akan berdampak pada kegiatan industri kecil dan perdagangan serta berbagai jenis usaha lainnya. Wilayah dengan lahan yang subur umumnya akan berkembang sebagai wilayah pertanian. Hal tersebut akan berdampak pada pola hidup penduduknya.

Oleh karena itu, suatu wilayah dengan pusat pertumbuhan yang diawali dari potensi pertanian akan menunjukkan pola yang berbeda dengan wilayah yang mulanya dikembangkan dari potensi wisata, baik wisata budaya, maupun wisata alam. Demikian pula suatu wilayah yang pusat pertumbuhannya dimulai dari pengembangan pertambangan akan memiliki pola berbeda dengan wilayah yang dikembangkan dari industri.

2. Pusat pertumbuhan teori tempat sentral (central place theory)

Teori tempat sentral pertama kali dikemukakan oleh walter christaller pada tahun 1993. Teori ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan menentukan penyebaran permukiman desa dan kota yang berbeda ukuran dan luasnya. Dalam perkembangannya, teori tempat sentral dikembangkan dan diperkuat oleh August Losch (1945).

Kedua ahli tersebut berpendapat bahwa cara yang baik untuk memberikan pelayanan berdasarkan aspek keruangan adalah dengan menempatkan aktivitas pada hierarki permukiman yang luasnya meningkat dan lokasinya ada pada simpul-simpul jaringan heksagonal. Dengan demikian, lokasi kegiatan untuk melayani kebutuhan harus ada pada tempat yang sentral. Tempat yang sentral adalah tempat yang memungkinkan partisipasi penduduk dalam jumlah maksimal, baik yang terlibat dalam aktivitas pelayanan maupun sebagai konsumen.

Tempat sentral dapat berupa pusat ibukota kabupaten yang dilengkapi fasilitas seperti pusat perbelanjaan, pusat hiburan, atau pusat pendidikan yang memiliki kekuatan “menarik” penduduk di sekitarnya untuk mengunjunginya. Dalam skala besar, kota sebagai tempat sentral memiliki jenjang secara bertahap. Misalnya, kota provinsi menjadi daya tarik penduduk kota kabupaten. Kota kabupaten menjadi pusat dan memiliki daya tarik bagi penduduk di kota-kota kecamatan, dan seterusnya.

Titik-titik simpul dari suatu bentuk geometrik yang heksagonal memengaruhi wilayah di sekitarnya. Adanya pengaruh tersebut mendorong pembentukan hierarki jaringan seperti sarang lebah.

Tempat sentral seperti kota provinsi, kota kabupaten dengan segala fasilitas yang dimilikinya, mempunyai pengaruh yang berbeda-beda sesuai dengan besar kecilnya wilayah tersebut. Akibatnya, terdapat hierarki tempat sentral. Semakin besar ukuran wilayah permukiman, maka jarak dan jumlah fungsinya juga akan bertambah.

3. Pusat pertumbuhan teori kutub pertumbuhan (growth poles theory)

Teori ini dikemukakan oleh perroux pada tahun 1955. Menurut perroux, proses pembangunan wilayah bukan suatu proses yang terjadi secara serentak, melainkan muncul di tempat tertentu dengan kecepatan dan intensitas yang berbeda.

Tempat atau kawasan yang menjadi pusat pembangunan dinamankan pusat atau kutub pertumbuhan. Kota yang berkembang dari pusat pertumbuhan akan menyebar dan berkembang ke wilayah sekitarnya atau ke pusat-pusat yang lebih rendah di wilayah sekitarnya.

Hierarki tempat sentral wilayah komplementer (pengaruh) dibedakan menjadi tiga jenis berikut.

· Tempat sentral hierarki 3 (K=3), merupakan pusat pelayanan berupa pasar yang senantiasa menyediakan barang-barang bagi daerah sekitarnya atau sering disebut sebagai kasus pasar optimal. Selain memengaruhi wilayah itu sendiri, tempat sentral yang berhierarki 3 memiliki pengaruh sepertiga bagian dari wilayah tetangga di sekitarnya yang berbentuk heksagonal atau segi enam.

· Tempat sentral hierarki 4 (K=4), merupakan situasi lalu lintas yang optimum. Artinya, daerah tersebut dan daerah sekitarnya yang terpengaruh tempat sentral senantiasa memberikan kemungkinan jalur lalu lintas yang paling efisien.

Selain memengaruhi wilayah itu sendiri, situasi lalu lintas ini memiliki pengaruh setengah dari bagian wilayah tetangga di sekitarnya yang berbentuk segi enam.

· Tempat sentral hierarki 7 (K=7), merupakan situasi administratif yang optimum. Selain memengaruhi wilayah itu sendiri, tempat sentral ini memengaruhi seluruh bagian wilayah tetangganya. Situasi administratif yang dimaksud dapat berupa kota pusat pemerintahan.

Batas wilayah pusat pertumbuhan

Batas wilayah pusat pertumbuhan dapat diasumsikan sebagai batas pengaruh wilayah pusat pertumbuhan terhadap wilayah di sekitar dalam rangka pembangunan suatu wilayah. Untuk mengetahui batas pengaruh wilayah pusat pertumbuhan dapat digunakan beberapa analisis wilayah, yaitu dengan menggunakan Model Gravitasi dan Teori titik balik (titik henti).

Konsep model gravitasi didasarkan atas pernyataan bahwa jika ukuran salah satu atau kedua wilayah bertambah, maka pengaruh yang terjadi di antara kedua kota tersebut juga akan bertambah. Semakin jauh jarak antara kedua, maka semakin berkurang juga pengaruh yang terjadi di antara keduanya. Fenomena demikian dikenal sebagai peluruhan jarak (distance delay). Model gravitasi ini bisa digunakan untuk menghitung:

1. Aliran transportasi (lalu lintas)

2. Migrasi antara kedua wilayah

3. Jumlah penduduk yang cenderung menggunakan satu tempat pusat. Misalnya, satu tempat belanja.

Selengkapnya mengenai konsep model gravitasi dan konsep titik henti telah kamu pelajari pada bab sebelumnya.

D. Penerapan konsep pengwilayahan di Indonesia

Dalam rangka pemerataan kemakmuran bagi seluruh daerah dan rakyat Indonesia, maka penekanan pembangunan yang dipusatkan pada sektor pertanian dan industri menempati urutan kedua. Untuk itu, pemerintah menyusun batas pengembangan wilayah pembangunan yang dituangkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) baik dalam lingkup nasional maupun lingkup provinsi dan kabupaten/kotamadya. Adapun rencana tersebut bertujuan untuk mewujudkan hal-hal berikut ini.

1. Pemerataan pembangunan ekonomi secara nasional.

2. Membendung arus urbanisasi yang masuk ke pulau jawa yang selama ini menunjukkan peningkatan secara persentase.

3. Untuk mencapai delapan jalur pemerataan pembangunan di seluruh tanah air.

4. Memudahkan koordinasi di setiap wilayah dalam rangka memantau laju pembangunan.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas, maka sistem pembangunan nasional disusun dengan cara regionalisasi (pengwilayahan). Berdasarkan konsep pengwilayahan, wilayah pembangunan Indonesia dikelompokkan ke dalam empat wilayah pembangunan utama berikut.

1. Wilayah pembangunan utama A, pusat pertumbuhan di Medan.

2. Wilayah pembangunan utama B, pusat pertumbuhan di Jakarta.

3. Wilayah pembangunan utama C, pusat pertumbuhan di Surabaya.

4. Wilayah pembangunan utama D, pusat pertumbuhan di Makkasar.

Setiap wilayah pembangunan utama dikelompokkan lagi ke dalam 10 sub wilayah pembangunan.

Setelah mempelajari bab ini, tentunya kamu telah memahami konsep wilayah dan perwilayahan dengan baik. Kamu diharapakan telah mampu menentukan pusat pertumbuhan dalam suatu wilayah.

Pada bab terakhir, kamu akan mempelajari konsep negara maju dan negara berkembang, termasuk negara apakah Indonesia? Ikuti pembahasan pada bab berikutnya Pola Wilayah Negara Maju dan Negara Berkembang 
Read More »

Pola Keruangan Desa dan Kota

Pola Keruangan Desa dan Kota 

gambar desa vs kota

 

Pada bab ini, kamu diharapkan mampu:

· Menjelaskan pengertian serta ciri-ciri desa dan kota

· Menganalisis struktur ruang desa dan kota

· Menganalisis interaksi wilayah desa dan kota

· Menjelaskan konflik antara desa dan kota dalam pemanfaatan lahan pemukiman, serta

· Mengidentifikasi dampak permukiman terhadap kualitas lingkungan

Kamu tentunya pernah mendengar istilah dalam ilmu geografi tentang desa maupun kota. Desa umumnya identik dengan adanya pegunungan, lahan pertanian yang luas, dan udara yang bersih. Kemudian kota memiliki masyarakat yang heterogen, berdiri bangunan-bangunan yang bertingkat, pemukiman yang padat, dan udara yang kotor. Antara desa dan kota memiliki pola keruangan yang berbeda sehingga mendorong terjadinya interaksi antarwilayah. Pola keruangan tersebut memberikan pengaruh terhadap kualitas lingkungan baik biotik maupun abiotik.

Baca Materi Sebelumnya Sistem Infosmasi Geografis (SIG)

A. Pengertian desa dan kota

Pengertian desa

Desa memilki istilah yang berbeda di berbagai daerah di Indonesia. Di aceh, desa dikenal dengan istilah gampong, di tapanuli disebut huta, di sumatra barat disebut nagari, di bali disebut banjar, di sulawesi selatan disebut wanus. Untuk mengenali desa maka perlu diperhatikan pengertian desa sebagai berikut.

1. R. Bintarto

Desa adalah suatu hasil perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis, sosial, ekonomi, politik, dan kultural yang terdapat di suatu daerah serta memiliki hubungan dan pengaruh timbal balik dengan daerah lain.

2. Sutardjo Kartohadikusumo

Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri.

3. William Ogburn dan M.F Nimkoff

Desa adalah keseluruhan organisasi kehidupan sosial di dalam daerah terbatas.

4. Paul H. Landis

Desa adalah suatu wilayah yang penduduknya kurang dari 2.500 jiwa dengan ciri-ciri : 

a. Mempunyai pergaulan hidup yang saling mengenal

b. Adanya ikatan perasaan yang sama tentang kebiasaan

c. Cara berusaha bersifat agraris dan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor alam, seperti iklim, topografi, dan sumber daya alam.

Ciri-ciri, unsur, dan potensi desa

Memperhatikan pengertian yang diberikan oleh para ahli di atas, suatu daerah disebut desa jika memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1. Mata pencaharian utama penduduk adalah dalam sektor pertanian

2. Perbandingan antara lahan dan manusia relatif besar. Artinya, jumlah penduduk relatif sedikit dan lahannya relatif luas

3. Hubungan antarwarga relatif akrab

4. Biasanya tradisi masih dipegang kuat oleh sebagian besar masyarakatnya.

Bintarto, menjabarkan unsur-unsur desa ke dalam tiga bagian yang saling terkait sehingga merupakan suatu kesatuan. Ketiga unsur desa tersebut adalah sebagai berikut.

1. Daerah, dalam arti lahan yang produktif dan non produktif beserta penggunaannya, termasuk juga unsur lokasi, luas, dan batas yang merupakan lingkungan geografi setempat.

2. Penduduk, meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, persebaran, dan mata pencaharian penduduk setempat.

3. Tata kelakuan, dalam hal ini berupa pola tata pergaulan dan ikatan pergaulan warga desa. Jadi menyangkut seluk-beluk kehidupan masyarakat desa.

Walaupun setiap desa memiliki unsur yang sama, namun antara satu desa dengan desa lainnya memiliki potensi yang berbeda. Misalnya, tidak semua desa memiliki lahan yang subur dan lokasi yang strategis begitu pula dengan mata pencaharian penduduk yang beragam jenisnya walaupun masih termasuk dalam bidang pertanian. Berdasarkan bentuknya, potensi desa dapat dibedakan atas potensi fisik dan potensi nonfisik. Potensi fisik merupakan potensi yang terdapat pada bentuk fisik. Potensi fisik suatu desa mencakup tanah, air, iklim, manusia, sumber tanaman, dan lain-lain.

1. Tanah

Tanah dalam arti berbagai unsur yang dapat dimanfaatkan di dalamnya sebagai sumber mata pencaharian dan penghidupan penduduk seperti sumber tumbang dan mineral, sumber tanaman, dan lain-lain.

2. Air

Untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari dan untuk keperluan lainnya, seperti pertanian atau transportasi. Air sebagai potensi fisik berkaitan dengan jumlah, kualitas, dan tata air.

3. Iklim

Iklim merupakan salah satu faktor penting dalam kaitannya dengan bidang pertanian.

4. Ternak

Ternak dalam arti fungsi keberadaan sebagai sumber lahan makanan, sumber keuangan, dan sumber tenaga untuk pertanian.

5. Manusia

Manusia dalam arti tenaga kerja dalam mengolah lahan dan sebagai produsen.

Potensi non fisik merupakan potensi yang dimiliki desa dalam bentuk perilaku, lembaga sosial, serta aparatur desa.

1. Perilaku saling membantu atau gotong royong antarwarga masyarakat merupakan potensi yang dapat dikembangkan sebagai kekuatan berproduksi dan membangun desa atas dasar kerjasama dan saling pengertian.

2. Lembaga-lembaga sosial, lembaga pendidikan, dan organisasi-organisasi sosial di desa yang dapat memberikan bimbingan demi kemajuan desa.

3. Aparatur desa yang disiplin dan kreatif dapat menjadi pendukung sekaligus motivator pembangunan di desa.

Adanya perbedaan potensi masing-masing desa menyebabkan adanya perbedaan tingkat perkembangan antara desa-desa tersebut. Berdasarkan tingkat perkembangannya, desa dapat dibedakan atas desa terbelakang, desa sedang berkembang, dan desa maju. Tingkat kemajuan suatu desa sangat tergantung pada hal-hal berikut ini.

1. Potensi desa, baik potensi sumber daya alam maupun potensi sumber daya manusianya.

2. Interaksi desa dengan kota dalam berbagai bentuk, sehingga memacu perkembangan desa.

3. Lokasi desa, menyangkut jarak antara desa dengan daerah lainnya yang lebih maju.

Selain berdasarkan tingkat perkembangannya, pengelompokan desa juga dapat didasarkan pada kemampuannya dalam mengelola dan mengembangkan potensinya. Pengelompokan tersebut dapat menunjukkan tingkat kemandirian desa tersebut. Berdasarkan tingkat kemandiriannya, desa dapat dibedakan menjadi desa swadaya, desa swakarya, dan desa swasembada.

1. Desa swadaya (desa terbelakang)

Desa swadaya yaitu desa yang sebagian besar masyarakatnya memenuhi kebutuhannya dengan usaha sendiri. Biasanya desa tersebut kurang berinteraksi dengan desa lainnya karena lokasinya yang terpencil, sehingga proses kemajuannya sangat lamban.

2. Desa swakarya

Desa swakarya yaitu suatu wilayah desa yang masyarakatnya sudah mampu menghasilkan keperluan hidupnya sendiri. Selain itu, produk yang dihasilkan desa swakarya juga sudah berlebih, sehingga kelebihan produksinya dapat dijual ke daerah lain. desa swakarya setingkat lebih maju dibanding desa swadaya. Interaksi dengan masyarakat daerah lainnya sudah mulai dilakukan walaupun intensitasnya tidak begitu sering.

3. Desa swasembada

Desa swasembada yaitu desa yang masyarakatnya sudah mampu mengembangkan semua potensi yang dimiliki secara optimal. Desa ini secara intensif telah berinteraksi dengan masyarakat luar, melakukan transaksi, dan memiliki kemampuan untuk memengaruhi dan dipengaruhi oleh daerah lainnya. Interaksi dengan masyarakat dan budaya luar memacu kemajuan desa karena bersamaan dengan itu masuk pula ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih maju dari luar.

Dalam kaitannya dengan kota, posisi desa sangat penting. Desa berfungsi sebagai hinterland, yaitu suatu daerah yang berfungsi memenuhi atau memasok kebutuhan bahan makanan pokok, seperti padi, buah-buahan, ketela, jagung, maupun palawija. Secara ekonomi, selain berfungsi sebagai tempat produksi pangan desa juga berfungsi sebagai tempat produksi komoditi ekspor.

Seringkali interaksi antara desa dengan kota berjalan secara tidak seimbang. Kekuatan pengaruh kota terhadap desa lebih dominan dibandingkan pengaruh desa terhadap kota. Kondisi ini terutama karena pembangunan lebih difokuskan di kota. Akibatnya, kota lebih banyak memengaruhi corak kehidupan di desa dan mengambil manfaat sumber daya alam di desa dibanding yang diberikan oleh kota terhadap desa. Ketimpangan tersebut menjadikan kota memiliki daya tarik yang luar biasa besarnya. Akibatnya, banyak penduduk desa yang pergi ke kota, baik untuk menetap maupun tinggal sementara.

Pengertian kota

Sebelum lebih jauh membahas tentang struktur ruang kota, alangkah baiknya kita mempelajari terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan kota. Dari segi geografi, menurut bintarto, kota adalah bentang budaya yang ditimbulkan oleh unsur-unsur alami dan nonalami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistis dibanding dengan daerah belakangnya.

Seluruh wilayah yang dikatakan sebagai kota biasanya harus memenuhi kriteria tertentu. Kriteria tersebut biasanya berupa angka (numerik). Kriteria numerik umumnya merujuk pada jumlah penduduk. Hanya saja, kriteria jumlah penduduk kurang dapat dijadikan patokan. Misalnya di pulau jawa, suatu daerah yang berpenduduk 5.000 orang belum termasuk kota, tetapi di inggris suatu daerah yang berpenduduk 500 orang sudah dapat disebut dengan kota.

Ciri-ciri kota

Dalam menentukan apakah suatu wilayah merupakan wilayah kota atau bukan, maka dapat digunakan beberapa ciri berikut ini.

1. Tempat-tempat untuk pasar dam pertokoan

Pasar dan pertokoan merupakan salah satu pusat aktivitas penduduk di perkotaan. Pasar dan pertokoan di kota-kota besar masuk dalam wilayah pusat kota atau down town bersama dengan gedung perkantoran, bioskop, bank, dan lain-lain.

2. Tempat-tempat untuk parkir

Tempat parkir merupakan ciri lain dari kota. Jumlah kendaraan yang besar dan aktivitas yang begitu tinggi dalam kegiatan transportasi. Membuat kota memerlukan tempat berhenti sementara yang disebut dengan lahan parkir. Kebutuhan lahan parkir semakin tinggi dengan semakin besarnya jumlah kendaraan serta tingginya aktivitas manusia. Perluasan lahan parkir seringkali tidak mampu mengimbangi jumlah kendaraan yang terus bertambah. Akibatnya, lahan parkir menjadi permasalahan tersendiri bagi sebuah kota karena lahan yang relatif terbatas. Untuk mengatasi permasalahan tersebut banyak gedung yang sengaja menyediakan jasa lahan parkir tidak hanya pada area terbuka saja tetapi juga di area tertutup, baik di lantai dasar gedung maupun secara bertingkat.

3. Tempat rekreasi dan olahraga

Tempat rekreasi dan olahraga merupakan kebutuhan bagi masyarakat, terutama masyarakat kota. Karena itu, setiap kota umumnya berupaya menyediakan lahan tersebut, walaupun dengan luas yang terbatas.

B. Struktur ruang desa dan kota

Struktur ruang desa

Struktur ruang di pedesaan biasanya masih bersifat sederhana. Secara umum, struktur ruang desa dibagi menjadi dua bagian, yaitu ruang yang memiliki fungsi sosial dan ruang yang memiliki fungsi ekonomi. Wilayah perkampungan penduduk merupakan ruang yang memiliki fungsi sosial. Interaksi antarwarga keluarga dan masyarakat terjadi di wilayah ini. Wilayah pertanian, merupakan wilayah yang memiliki fungsi ekonomi. Penduduk mengolah lahan pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri maupun dijual ke daerah lainnya.

Luas pernggunaan lahan untuk pertanian dan perkampungan tentunya berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Desa yang telah maju biasanya memiliki persentase lahan pertanian yang lebih rendah. Hal ini terjadi karena jumlah penduduk yang semakin banyak sehingga lahan yang diperlukan untuk membangun permukiman semakin bertambah. Akibatnya, banyak lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi permukiman penduduk. Pada akhirnya, jika lahan permukiman lebih banyak dibandingkan dengan lahan pertanian disertai dengan semakin berkembangnya area perdagangan, maka struktur ruang desa berubah menjadi struktur ruang kota.

Dilihat dari bentuknya, perkampungan di desa memiliki pola yang berbeda. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis setempat seperti adanya sungai atau jalan sebagai sarana transportasi utama dan kondisi topografi yang berbukit atau datar. Berdasarkan bentuknya, permukiman dapat dibagi menjadi dua tipe, yaitu tipe memusat dan tipe terpencar.

1. Bentuk pemukiman memusat

Bentuk permukiman memusat merupakan bentuk permukiman yang mengelompok. Permukiman tersebut bisa berupa dukuh atau dusun (hamlet) yang terdiri dari rumah yang jumlahnya kurang dari 40 dan kampung yang terdiri dari 40 hingga ratusan rumah. Di sekitar dukuh atau kampung dikelilingi oleh lahan pertanian, peternakan, kehutanan dan lain-lain sebagai sumber ekonomi penduduk. Di Indonesia, permukiman tradisional, umumnya berbentuk memusat.

Permukiman yang memusat juga memiliki bentuk yang beragam. Bentuk permukiman memusat seperti berbentuk bujur sangkar umumnya ditemukan di daerah pertanian. Bentuk permukiman memusat yang berbentuk linear umumnya ditemukan di sepanjang garis, pantai, sungai dan jalan.

2. Bentuk pemukiman terpencar

Bentuk permukiman terpencar adalah suatu bentuk permukiman yang terdiri dari sejumlah rumah yang letaknya saling berjauhan antara satu dengan lainnya. Bentuk perkampungan semacam ini banyak ditemukan di negara Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Eropa Barat yang umumnya adalah negara-negara maju.

Umumnya permukiman dengan bentuk seperti ini dihuni oleh petani yang memiliki luas lahan yang besarnya mencapai puluhan hektar (bandingkan dengan rata-rata luas kepemilikan lahan pertanian di jawa yang hanya 0,25 hektar /petani). Para petani tersebut tinggal berjauhan dari beberapa kilometer sampai puluhan kilometer. Walaupun tinggal berjauhan atau menyendiri, pertanian yang mereka garap dilengkapi dengan gudang, peralatan pertanian modern, penggilingan, lumbung, dan kandang ternak. Jika memerlukan tenaga kerja, mereka bisa memerolehnya dari perkampungan lain yang berbentuk terpusat.

Struktur ruang kota

1. Teori kosentris dari ernest w. Burgess

Teori zona konsentris yang dikembangkan oleh Ernest W. Burgess, membagi kota ke dalam lima zona yang berbentuk memusat. Kelima zona tersebut adalah sebagai berikut.

a. Zona pusat daerah kegiatan (PDK)

Zona pusat kegiatan atau disebut dengan central bussiness district (CBD). Dalam zona ini terdapat toko-toko besar dan gedung perkantoran seperti bank, pertokoan, dan rumah makan.

b. Zona peralihan atau zona transisi

Zona transisi masih terikat dengan zona pusat kegiatan. Pada zona ini terdapat penduduk yang tidak stabil, baik ditinjau dari tempat tinggal, maupun dari segi ekonomi. Penduduk di wilayah ini umumnya adalah penduduk miskin. Biasanya, seiring dengan perkembangan kota, daerah ini menjadi sasaran pembangunan gedung-gedung untuk perhotelan, tempat parkir, dan jalan-jalan utama.

c. Zona pemukiman kelas proletar

Zona ini disebut juga dengan zona working men’s homes atau kaum pekerja. Penduduk di wilayah ini umumnya termasuk kurang mampu dilihat dari segi pendapatan. Perumahan yang dibangun relatif kecil tetapi lebih baik dibanding dengan zona transisi.

d. Zona permukiman kelas menengah (residential zona)

Sesuai dengan namanya, zona ini terdiri dari permukiman para karyawan kelas menengah yang memiliki keahlian tertentu. Karena itu, permukimannya lebih baik dibanding zona kelas proletar.

e. Zona penglaju (zona commuters)

Zona ini dihuni oleh para penglaju yaitu mereka yang bekerja di kota tetapi tinggal di daerah belakang atau hinterland. Karena itu, setiap hari mereka pulang pergi dari rumah ke tempat kerja menggunakan berbagai jenis kendaraan.

2. Teori sektor dari homer hoyt

Menurut Hoyt, perkembangan di daerah perkotaan tidak mengikuti zona-zona yang teratur secara konsentris, melainkan berupa sektor-sektor. Menurutnya, daerah-daerah industri berkembang sepanjang lembah sungai jalur lintasan kereta api yang menghubungkan kota tersebut dengan kota lainnya. Hoyt beranggapan bahwa daerah-daerah yang memiliki sewa tanah atau harga tanah yang tinggi akan terletak di tepi luar dari kota. Selain itu, dia juga beranggapan bahwa daerah-daerah yang memiliki sewa dan harga tanah yang rendah merupakan jalur yang mirip dengan potongan kue tart, sehingga bentuk struktur ruang kota tidak konsentris. Menurut Hoyt pola keruangan kota adalah sebagai berikut.

a. Zona pusat daerah kegiatan berada pada pusat atau tengah kota seperti halnya dalam teori konsentris. Pada zona ini terdapat kantor, hotel, pusat perbelanjaan, pasar, bioskop, dan berbagai pusat aktivitas manusia lainnya.

b. Manufaktur dan grosir memanjang ke arah luar dari pusat kota.

c. Dekat atau di sekitar pusat kota tedrdapat zona permukiman kelas rendah.

d. Berbatasan dengan zona permukiman kelas rendah ke arah luar terdapat zona permukiman kelas menengah.

e. Zona permukiman kelas tinggi memanjang milai dari pusat kota sampai ke arah luar kota.

3. Teori inti berganda (multiple nucklei) dari harris dan ullman

Harris dan Ullam mengembangkan pola keruangan kota yang membagi kota menjadi sejumlah inti yang masing-masing berdiri sendiri.

Pola permukiman memusat ada yang berbentuk bujur sangkar dan ada pula yang berbentuk linear. Bentuk permukiman memusat yang berbentuk linear umumnya ditemukan di sepanjang garis pantai, sungai, jalan raya, dan lintasan kereta api.

a. Permukiman linear sepanjang garis pantai

Pola ini terbentuk di wilayah pantai dimana sebagian besar penduduknya mata pencahariannya sebagai nelayan untuk pergi melaut. Bentuk permukiman seperti ini banyak ditemukan di hampir seluruh garis kepulauan Indonesia

b. Permukiman linear sepanjang alur sungai

Permukiman penduduk sepanjang alur sungai umumnya terbentuk di sepanjang sisi kiri dan kanan sungai. Pola seperti ini umumnya terbentuk di sepanjang sungai-sungai besar Indonesia.

c. Permukiman linear sepanjang jalan raya

Bentuk permukiman sepanjang jalan raya terbentuk seiring dengan perkembangan sarana transportasi. Permukiman penduduk akan terbentuk sejajar di kedua sisi jalan raya.

d. Permukiman linear sepanjang jalan kereta api

Pola ini umumnya terbentuk di kedua sisi sepanjang lintasan kereta api. Pola permukiman seperti ini hanya ditemukan di pulau jawa dan sebagian wilayah pulau sumatra.

C. Interaksi wilayah desa dan kota

Setiap wilayah di permukaan bumi memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan lainnya, baik dilihat dari aspek fisik, manusia, maupun budayanya. Karena itu, potensi masing-masing wilayah adalah beragam. Tidak ada satupun wilayah di permukaan bumi yang memiliki potensi yang benar-benar sama. Karena potensi wilayah yang beragam, maka tidak ada satu wilayah pun yang mampu memenuhi semua kebutuhannya hanya dengan mengandalkan pada wilayahnya sendiri, kecuali jika penduduk dan wilayah tersebut berada dalam keadaan terisolasi dan hanya hidup seadanya.

Perbedaan potensi wilayah memicu terjadinya interaksi antarwilayah. Suatu wilayah mungkin kaya akan sumber daya alam tertentu akan tetapi miskin akan sumber daya alam lainnya, sehingga membutuhkan pasokan dari wilayah lainnya. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, Edwarf Ullman mengemukakan tiga faktor utama yang mendasari munculnya interaksi antarwilayah. Ketiga faktor tersebut adalah sebagai berikut.

Adanya wilayah-wilayah yang saling melengkapi (Regional Complementary)

Perbedaan kemampuan antarwilayah dalam hal sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam memungkinkan terjadinya hubungan saling melengkapi. Misalnya, wilayah A memiliki surplus sumber daya X tetapi minus sumber daya Y dan Z. Wilayah B memiliki surplus sumber daya Y tetapi minus sumber daya X dan Z. Kondisi tersebut akan memicu terjadinya interaksi antara kedua wilayah dalam bentuk saling melengkapi.

Adanya kesempatan untuk saling beritervensi (Intervening Opportunity)

Kesempatan untuk berintervensi adalah suatu kemungkinan adanya perantara yang dapat menghambat interaksi antarwilayah. Pada contoh di atas, antara wilayah A dan B akan terjadi hubungan saling melengkapi karena keduanya memiliki surplus untuk sumber daya tertentu yang dibutuhkan. Kondisi tersebut akan berubah jika terdapat wilayah lain, sebut saja wilayah C, yang juga menyediakan sumber daya yang dibutuhkan oleh A dan B. Interaksi antara A dan B menjadi terhambat atau menjadi melemah karena ada wilayah C yang menjadi alternatif pengganti.

Adanya kemudahan pemindahan dalam ruang (spatial transfer ability)

Pola interaksi antar wilayah juga ditentukan oleh tingkat kemudahan dalam pemindahan sumber daya dalam ruang, baik berupa barang, manusia, maupun informasi. Kemudahan tersebut dipengaruhi antara lain oleh:

1. Jarak antarwilayah, baik jarak mutlak maupun jarak relatif

2. Biaya angkut atau transpor untuk keperluan transfer atau pemindahan sumber daya

3. Kelancaran transportasi antarwilayah yang mencakup antara lain jumlah kendaraan dan kondisi jalan.

Kekuatan interaksi antarwilayah dapat dianalisis menggunakan Teori Gravitasi yang dikemukanan oleh Reilly. Teori tersebut, sesuai dengan namanya, mengadopsi hukum gravitasi dalam fisika yang dikemukakan oleh Sir Isaac Newton. Newton mengemukakan bahwa bila ada dua massa yang saling berhadapan, maka kedua massa itu akan saling menarik. Gaya tarik antara dua benda tersebut berbanding lurus dengan massanya dan berbanding terbalik dengan kuadratnya.

Reilly menerapakan teori tersebut untuk menganalisis atau mengukur kekuatan interaksi antarwilayah. Menurutnya, kekuatan interaksi antarwilayah dapat ditentukan dengan memperhatikan jumlah penduduk pada masing-masing wilayah dan jarak mutlak antara wilayah-wilayah tersebut.

Analisis interaksi antarwilayah juga bisa dilakukan dengan menggunakan teori titik henti (the breaking point theory). Teori tersebut pada dasarnya merupakan hasil modifikasi teori gravitasi dari Reilly. Teori ini digunakan untuk memperkirakan garis batas antara dua wilayah perdagangan dari dua kota yang memiliki ukuran yang berbeda. Teori ini juga dapat digunakan untuk menentukan penempatan lokasi industri dan pelayan-pelayanan sosial yang dapat dijangkau dengan mudah oleh penduduknya. Teori ini menyatakan bahwa:

Jarak titik henti atau titik pusat perdagangan yang lebih kecil ukurannya, berbanding lurus dengan jarak antara kedua pusat perdagangan tersebut dan berbanding terbalik dengan satu ditambah akar kuadrat jumlah penduduk dari wilayah yang penduduknya lebih kecil dibagi dengan jumlah penduduk pada wilayah yang penduduknya lebih besar.kekuatan interaksi juga sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sarana dan prasarana transportasi. Jumlah dan jenis kendaraan serta kondisi jalan yang memadai baik dilihat dari segi kualitasnya maupun jaringannya akan memperlancar arus pemindahan sumber daya dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Dengan demikian, kekuatan interaksi antardua wilayah juga semakin kuat. Berdasarkan kenyataan tersebut, KJ. Kansky mengembangkan cara untuk mengukur kekuatan interaksi antarkota dalam suatu wilayah berdasarkan kondisi jaringan jalannya.

Semakin besar nilai indeks berarti semakin besar atau kuat interaksi kota-kota wilayah tersebut. Pola atau bentuk jaringan jalan yang menghubungkan kota-kota bisa dibedakan menjadi dua, yaitu bentuk cabang atau pohon dan bentuk sirkuit. Nilai indeks pola cabang selalu lebih kecil dari 1, sedangkan nilai indeks pola sirkuit sama dengan atau lebih dari 1. Artinya, pola sirkuit memiliki kekuatan interaksi yang lebih tinggi dari pola cabang.

D. Konflik pemanfaatan lahan permukiman

Pemanfaatan lahan di daerah pedesaan didominasi oleh kegiatan pertanian. Hanya sebagian kecil lahan yang dmanfaatkan untuk permukiman. Kondisi yang berbeda terjadi di kota yang sebagian besar lahannya dimanfaatkan untuk permukiman dan fasilitas lainnya. Mekipun demikian, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di pedesaan, maka lama kelamaan area pertanian di pedesaan akan berubah fungsi menjadi area permukiman.

Masalahnya kemudian muncul ketika pembangunan permukiman tersebut harus mengorbankan lahan pertanian yang relatif subur yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian penduduk. Di sinilah terjadi konflik kepentingan antara kepentingan untuk memenuhi kebutuhan ruang bermukim dengan kebutuhan akan pangan yang juga tidak kalah pentingnya. Biasanya kebutuhan untuk permukiman mengalahkan kebutuhan untuk pangan, sehingga lahan pertanian secara terus menerus berubah menjadi lahan permukiman.

Akibat dari semakin berkurangnya lahan pertanian di pedesaan adalah bergesernya lahan pertanian ke wilayah yang seharusnya dijadikan wilayah konservasi, yaitu hutan. Pembukaan hutan untuk pertanian merupakan pilihan yang terpaksa dilakukan oleh petani yang sudah tidak memiliki lahan pertanian akibat berkembangnya permukiman. Dampak lainnya adalah sebagian petani harus mengganti mata pencahariannya menjadi bidang nonpertanian dengan pergi ke kota sebagai buruh kasar atau pedagang.

Berkembangnya kota ke arah wilayah pedesaan sekitarnya juga menjadi sumber masalah. Lahan-lahan pertanian yang subur terpaksa beralih fungsi menjadi permukiman bagi penduduk yang tidak dapat tinggal di kota. Sebagian penduduk memilih tinggal di desa sekitar kota dengan berbagai alasan, seperti harga tanah yang lebih rendah, luas lahan yang masih besar, dan kondisi lingkungan yang masih baik. Seringkali, warga kota yang membangun permukiman di pedesaan sekitarnya memiliki gaya hidup dan kebiasaan yang tidak sejalan dengan penduduk desa. Akibatnya, terkadang timbul konflik sosial akibat perbedaan tersebut.

Konflik pemanfaatan lahan juga terjadi di wilayah perkotaan. Semakin meningkatnya jumlah penduduk mengakibatkan naiknya kebutuhan akan bermukim. Padahal, banyak penduduk kota yang secara ekonomi tidak mampu memiliki rumah dengan harga tanah dan bangunan yang sudah sedemikian tingginya. Akibatnya, banyak warga kota yang memanfaatkan lahan yang seharusnya tidak diperuntukkan untuk permukiman. Misalnya, di sepanjang sungai yang seharusnya dijadikan jalur hijau, di sepanjang jalur rel kereta api dan lahan milik pemerintah yang belum dimanfaatkan. Kondisi ini seringkali menjadi sumber konflik antara aparat pemerintah dan penduduk yang tinggal di atas lahan tanpa izin atau liar. Pemerintah dengan alasan ketertiban berupaya melakukan pembongkaran secara paksa. Kondisi demikian tentu saja akan memicu timbulnya konflik antara penduduk di atas lahan dengan aparat pemerintah.

E. Dampak permukiman terhadap kualitas lingkungan

Pembangunan permukiman merupakan suatu upaya memenuhi kebutuhan dasar manusia akan tempat tinggal. Kegiatan ini dilakukan dengan mengubah fungsi lahan tertentu menjadi permukiman. Perubahan ini tentunya akan mengubah tatanan dan interaksi antarunsur lingkungan, baik lingkungan biotik, abiotik, maupun sosial-budaya. Lingkungan itu sendiri memiliki tatanan atau jalinan hubungan antara satu dengan lainnya, sehingga membentuk keseimbangan. Jika dengan dibangunnya permukiman terjadi perubahan pada salah satu unsurnya, maka tatanan lingkungan dan kualitas lingkungan akan terpengaruh.

Dampak permukiman tidak hanya pada aspek lingkungan bio-fisik saja, tetapi juga pada aspek lingkungan sosial-budaya. Aspek lingkungan bio-fisik mencakup lingkungan biotik, perairan, tanah, dan udara. Sedangkan aspek lingkungan sosial-ekonomi dan budaya antara lain mencakup tradisi, seni budaya, interaksi sosial, dan ekonomi.

Dampak lingkungan terhadap lingkungan biotik

Perkembangan permukiman merupakan upaya mengubah bentuk pemanfaatan lahan tertentu menjadi permukiman. Lahan yang dijadikan permukiman dapat berupa daerah pertanian maupun daerah yang masih alami seperti hutan. Proses konversi lahan jelas akan mengubah habitat berbagai makhluk hidup yang sudah ada di tempat tersebut. Jika habitat telah rusak, maka bisa terjadi beberapa kemungkinan berikut.

1. Migrasi beberapa jenis spesies hewan ke tempat atau habitat lain yang mampu memberikan tempat perlindungan dan makanan.

2. Adaptasi sejumlah spesies dengan lingkungan bari yaitu lingkugan permukiman. Misalnya, tikus dan beberapa serangga.

3. Semakin berkurangnya jumlah populasi hewan dan tumbuhan tertentu yang mampu beradaptasi pada lingkungannya yang baru karena berkurangnya makanan dan semakin terbatasnya habitat yang sesuai.

4. Sejumlah spesies mati atau bahkan punah karena hilang atau berkurangnya spesies lainnya yang menjadi sumber makanan.

5. Hilangnya spesies pemangsa seperti, ular, harimau, dan hewan lainnya yang dianggap membahayakan manusia mengakibatkan ledakan populasi pada spesies tertentu, seperti tikus, berbagai jenis serangga, dan lain-lain. pada gilirannya kondisi sedemikian akan mengganggu manusia dan lahan pertaniannya.

Konversi hutan di pulau jawa yang dilakukan secara terus menerus, terutama untuk pertanian dan permukimanm, menyebabkan berkurang dan punahnya sejumlah spesies tertentu, misalnya harimau jawa dan burung elang. Spesies-spesies tersebut berkurang atau punah karena hilangnya sumber makanan serta semakin sempitnya habitat alami tempat mereka hidup.

Berkurangnya spesies atau bahkan punahnya spesies tidak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi juga di beberapa negara maju. Negara-negara tersebut telah banyak melakukan konversi lahan untuk permukiman dan industri. Jenis spesies yang telah puah di antaranya passenger pigeon (ectopistes migratorius) di Amerika. Selain spesies yang telah punah, di beberapa negara maju seperti Amerika juga terdapat spesies yang terancam punah, seperti bison dan alligator amerika.

Dampak permukiman terhadap kulitas lingkungan fisik

Dampak adanya permukiman dapat terlihat dan terasa dengan jelas pada lingkungan fisik. Keberadaan permukiman pada suatu wilayah secara langsung menutup lahan-lahan terbuka dengan bangunan rumah dan berbagai fasilitasnya. Selain, itu aktivitas penduduk memberi dampak terhadap kulitas lingkungan udara dan perairan.

1. Dampak permukiman terhadap kualitas lingkungan perairan

Berkembangnya permukiman akan disertai dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan air. Sementara itu, volume air tanah terjadi karena terhambatnya proses infiltrasi (masuknya air ke dalam tanah) akibat tertutupnya lahan oleh permukiman. Sebagian besar air hujan menjadi air limpasan permukaan (run off) menuju sungai-sungai yang ada di sekitarnya. Seringkali kondisi ini mengakibatkan banjir di daerah-daerah yang lebih rendah dari permukiman tersebut.

Air permukaan, baik air sungai maupun air danau seringkali tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari akibat pencemaran yang tinggi dari berbagai sumber seperti permukimann dan industri. Sumber pencemaran dari permukiman (limbah domestik) dapat berupa deterjen atau sabun serta limbah padat berupa sampah (sampah organik dan non-organik) dari kegiatan rumah tangga. Limbah-limbah tersebut, terutama limbah kimia seperti deterjen, seringkali membahayakan kehidupan makhluk hidup di wilayah perairan sekitarnya. Akibatnya, di wilayah perairan yang telah tercemar tidak banyak ditemukan makhluk hidup yang mampu bertahan.

2. Dampak permukiman terhadap kualitas udara

Berkembangnya permukiman juga akan disertai dengan semakin meningkatnya temperatur udara. Sebagian panas atau radiasi matahari yang sampai ke permukaan bumi akan diserap oleh tumbuhan. Jika tumbuhan tersebut ditebang dan digantikan dengan permukiman, maka radiasi matahari yang tadinya diserap tumbuhan akan dipantulkan kembali ke udara. Akibatnya temperatur udara menjadi lebih panas dibandingkan dengan daerah yang masih memiliki tumbuhan.

3. Dampak permukiman terhadap komponen tanah

Permukiman seringkali dibangun pada lahan-lahan yang relatif datar. Lahan-lahan tersebut biasanya berada di daerah pesisir yang relatif subur. Dengan dibangunnya permukiman, lahan-lahan tersebut akhirnya tidak lagi menghasilkan sumber bahan pangan yang dibutuhkan manusia.

Bertambahnya penduduk secara terus-menerus juga menuntut lahan permukiman yang lebih luas. Sebagian penduduk terpaksa atau sengaja merambah daerah yang tidak datar seperti di daerah pernukitan atau di lereng gunung yang tadinya merupakan hutan atau daerah pertanian, akibatnya, semakin banyak lahan yang terbuka dari pengaruh air hujan yang jatuh langsung ke atas tanah tanpa tertahan oleh pohon. Pada gilirannya, tanah akan mengalami pemadatan dan pertikel-pertikel tanah yang subur akan tererosi. Kekuatan erosi juga mengakibatkan lahan-lahan yang tadinya subur menjadi miskin akan unsur hara.

4. Dampak permukiman terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya

Meningkatnya jumlah penduduk pada suatu wilayah akan disertai dengan meningkatnya kebutuhan penduduk akan ruang untuk bermukim. Di daerah perkotaan, kebutuhan tersebut semakin lama semakin tinggi mengingat semakin besarnya jumlah peduduk yang belum memiliki rumah. Akibatnya, daerah permukiman meluas ke daerah pedesaan di sekitarnya karena berbagai daktor berikut.

a. Harga lahan di kota jauh lebih tinggi dibanding di daerah pedesaan di sekitar kota, sehingga sebagian penduduk kota lebih memilih tinggal di daerah pedesaan sekitar kota.

b. Luas pemilikan lahan di kota sangat terbatas, sehingga tidak memungkinkan jika seseorang berkeinginan untuk memiliki rumah yang beasr dengan pekarangan yang luas.

c. Sektor perekonomian di daerah pedesaan sekitar kota mulai berkembang, sehingga banyak peluang pekerjaan maupun usaha yang bisa dimanfaatkan oleh penduduk kota.

d. Sebagian penduduk kota berkeinginan tingga di lingkungan yang masih bersih, jauh dari kebisingan, dan polusi udara di kota.

Berkembangnya permukiman di daerah pedesaan maupun perkotaan, membawa dampak pada kehidupan sosial, ekonomi dan budayya penduduk di daerah pedesaan maupun di daerah perkotaan itu sendiri. Gambaran dampak tersebut adalah sebagai berikut.

1. Semakin sempitnya lahan pertanian di daerah pedesaan, membawa dampak terhadap semakin terbatasnya peluang kerja pada sektor pertanian. Akibatnya, sebagian penduduk terpaksa pergi ke kota lain dan beralih pekerjaan, membuka lahan pertanian baru di daerah lainnya, atau terpaksa menjadi pengangguran.

2. Adat dan kebiasaan serta gaya hidup penduduk kota yang pindah ke desa, sebagian akan ditiru oleh penduduk desa. Akibatnya, terjadi asimilasi dan akulturasi budaya antara budaya penduduk pendatang dan penduduk asli.

3. Adat dan kebiasaan penduduk kota dan desa tidak selamanya bisa diterima oleh penduduk desa. Kondisi ini dapat memicu terjadinya konflik di antara keduanya.

4. Penduduk pandatang dari kota biasanya memiliki karakteristik sosial-ekonomi (mata pencaharian, pendapatan, dan pendidikan) yang berbeda dengan penduduk desa. Perbedaan tersebut terkadang menimbulkan kecemburuan sosial dan konflik sosial.

5. Permukiman baru di daerah pedesaan seringkali terpisah dari penduduk asli. Permukiman-permukiman baru banyak yang dibatasi dengan pagar atau dinding pembatas, sehngga interaksi sosial di antara keduanya tidak berjalan dengan baik. Akibatnya, selain munculnya potensi konflik muncul pula perasaan saling curiga di antara keduanya.

6. Tidak jarang permukiman baru dihuni oleh penduduk dengan latar belakang sosial-ekonomi yang sama. Misalnya, perumahan karyawan perusahaan, dosen, pegawai negeri sipil, dan lain-lain. Akibatnya, interaksi sosial dengan kelompok lainnya tidak banyak terjadi.

7. Pembangunan permukiman di daerah pedesaan juga bisa memberikan mannfaat bagi penduduk setempat dengan muncul dan berkembangnya perekonomian di desa dalam sektor perdagangan maupun jasa seperti pedagang makanan, pertokoan, atau pertukangan.

8. Di daerah perkotaan, pembangunan permukiman seringkali dilakukan oleh penduduk pada lahan-lahan milik pemerintah tanpa izin. Akibatnya, terkadang terjadi penggusuran yang berakibat munculnya konflik antara penghuni dan pemerintah.

9. Sebagian penduduk kota yang kurang mampu biasanya membangun permukiman pada lahan yang luasnya terbatas dan tidak diperuntukkan untuk permukiman. Misalnya, di sekitar jalan kereta api, sepanjang jalur hijau di dekat sungai dan lain-lain. daerah tersebut kemudian berkembang menjadi daerah kumuh (slum area).

10. Padatnya permukiman di daerah perkotaan seringkali mendorong berkembangnya tindak kriminalitas di perkotaan.

Setelah kamu mempelajari bab ini, tentunya kamu telah memahami perbedaan antara desa dan kota.

Pada bab selanjutnya, kamu akan mempelajari konsep wilayah, perwilayahan, dan pertumbuhan yang erat kaitannya dengan bab ini. Jika kamu telah memahami bab ini dengan baik, maka tidak akan sulit untuk akan sulit untuk mempelajari bab selanjutnya Konsep Wilayah, Pewilayahan, dan Pertumbuhan
Read More »

Cara Internetan Di Wifi Corner - Beli Vouchernya dimana?

Cara Internetan Di Wifi Corner - Beli Vouchernya dimana?

Namanya juga belum pernah internetan di wifi id corner pasti bertanya-tanya kan bangaimana caranya biar bisa internetan rame-rame di wifi id corner bareng temen-temen atau sendirian seperti saya :D

Sobat juga pasti bertanya-tanya dimana beli paketannya? 

Semua yang saya paparkan di atas adalah masalah saya juga pas niat mau internetan di wifi id corner tapi belum pernah ke tempatnya. yang terlintas di pikiran saya adalah pertanyaan-pertanyaan di atas.

Tapi dengan modal nekad saya pun bisa internetan di tempat yang saya inginkan hehe..

Nah biar nggak bingung kayak orang ilang sobat perlu tau langkah-langkahnya biar sobat bisa mengakses internet melalui jaringan wifi id.

Berikut ini langkah-langkahnya.

Langsung datang ke plasa telkom group yang ada tempat buat internetannya.

1. Masuk ke parkiran. Biasanya ada tempat jaga satpam.
2. Tanya satpam dimana tempat beli voucher buat internetan. tapi biasanya satpam sudah tahu atau bahkan satpam sendiri yang melayani pembelian voucher buat internetan.
3. Kalo satpam nggak ada langsung masuk aja ke kantor Plasa telkom Group Langsung. Tanya pasti langsung di jawab. Kadang disuruh nunggu di luar. (tergantung pelayanan)

nah kalo udah dapet vouchernya langsung deh buka laptopnya/hp.

4. Masuk ke jaringan wifi id.
5. Buka browser dan browsing aja terserah. Ntar redirect ke halaman login wifi id.
6. Masukkan ID dan Paswordnya
7. Selesai.

Sobat udah bisa browsing sesuka sobat.

Atau sobat juga bisa beli voucher lewat online pake kartu telkomsel tentunya.

Untuk lebih jelasnya saya kurang tau karena belum baca-baca ketentuannya di situs telkomnya khususnya wifi corner ini.

Kalo belum jelas sobat bisa cari referensi di google atau juga bisa langsung tanya ke lokasinya.

Semoga artikel ini bisa menjawab pertanyaan sobat. Atas segala kekurangannya saya mohon maaf.

Semoga Bermanfaat :)


Read More »

Sistem Informasi Geografis (SIG)

Sistem Informasi Geografis (SIG)

gambar sig

 

Pada bab ini, kamu diharapkan mampu:

· Menjelaskan pengertian sistem informasi geografis (SIG)

· Mengidentifikasi komponen SIG

· Menjelaskan tahapan kerja dalam SIG

· Menjelaskan pengoperasian SIG secara konvensional, serta

· Menjelaskan pemanfaatan SIG

Dewasa ini, kebutuhan akan informasi semakin meningkat, baik ditinjau dari jenis maupun volumenya. Salah satu jenis informasi yang meningkat volumenya adalah informasi tentang kebumian atau informasi geografis.

Selama ini informasi geografis diperoleh melalui peta dengan cara konvensional. Namun demikian, peningkatan kebutuhan akan informasi geografis dalam bentuk peta ternyata tidak mampu lagi dipenuhi hanya dengan menggunakan cara-cara konvensional. Selain memakan waktu yang lama dan memakan biaya yang cukup besar, peta yang dibuat secara konvensional juga memiliki kelemahan lainnya. Salah satunya adalah keterbatasan informasi yang bisa disajikan.

Oleh karena itu, bab ini masih erat kaitannya dengan bab 1 dan bab 2. Dalam bab ini kamu akan mempelajari sistem informasi geografis secara lebih mendalam.

A. Pengertian sistem informasi geografis

Perkembangan teknologi dalam bidang komputer mendorong perkembangan pembuatan peta dengan format digital (data digital) yang dikenal dengan sistem informasi geografis (SIG). Melalui penggunaan data digital, pembuatan peta menjadi lebih cepat dan lebih efisien, sehingga mampu memenuhi kebutuhan informasi kebumian yang semakin meningkat.

SIG terdiri atas tiga kata, yaitu sitem, informasi, dan geografis. Adapun pengertian dari masing-masing konsep tersebut adalah sebagai berikut.

1. Sistem adalah sekumpulan objek, ide, yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan atau sasaran bersama. Untuk mencapai tujuan tersebut sistem terdiri atas sejumlah subsistem yang saling terkait. Sebagai contoh, tubuh manusia adalah sistem yang di dalamnya terdiri dari beberapa subsistem seperti pernapasan, reproduksi, pencernaan, dan peredaran darah. Sebagai sistem, SIG juga terdiri dari beberapa komponen atau subsistem.

2. Informasi adalah analisis dan sintesis terhadap data. Informasi juga bisa dikatakan sebagai data yang sudah diorganisasikan ke dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan.

3. Sistem informasi yaitu suatu jaringan kegiatan mulai dari pengumpulan data, manipulasi, pengelolaan dan analisis, serta penjabaran data menjadi informasi.

4. Geografis yaitu persoalan mengenai bumi. Kata tersebut bisa digabung dengan kata sebelumnya yaitu informsi geografis.

5. Informasi geografis adalah informasi mengenai tempat-tempat yang ada di muka bumi, pengetahuan mengenai letak suatu objek di muka bumi, dan informasi mengenai letak suatu objek di muka bumi, dan informasi mengenai berbagai keterangan yang terdapat di muka bumi yang posisinya diberikan atau diketahui.

Berdasarkan definisi dari beberapa kata penyusunannya, sejumlah ahli mendefinisikan SIG sebagai berikut.

1. Rice

Sistem informasi geografis (SIG) adalah sistem komputer yang digunakan untuk memasukkan (capturing), menyimpan, memeriksa, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan data yang berhubungan dengan posisi suatu objek di permukaan bumi.

2. Aronoff

Sistem informasi geografis (SIG) adalah sistem berbasis komputer yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi berbagai informasi geografi. SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis berbagai objek serta fenomena dimana lokasi geografi merupakan karakteristik penting atau kritis untuk dianalisis.

3. Michael N. Demers

Sistem informasi geografis (SIG) adalah sistem komputer yang digunakan untuk mengumpulkan, mengintegrasikan, dan menganalisis berbagai informasi yang berhubungan dengan permukaan bumi.

4. Star

Sistem informasi geografis (SIG) adalah sistem informasi yang dirancang untuk bekerja untuk data yang tereferensi secara spasial atau koordinat geografi.

Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa SIG merupakan sistem komputer yang mampu melaksanakan pekerjaan, mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis sesuatu hanya saja, dalam SIG, data yang dimaksud harus terujuk secara spasial atau memiliki lokasi di permukaan bumi. Apapun isi datanya, jika data tersebut memiliki lokasi atau koordinat geografi, data tersebut dapat dikatakan sebagai data geografis dan dapat diolah dengan menggunakan sistem informasi geografis (SIG). Karena itulah SIG bukan monopoli bidang geografi tetapi juga dikembangkan dan dimanfaatkan oleh bidang lainnya seperti politik, militer, bisnis, atau perencanaan wilayah.

Sistem informasi geografis dikenal dengan nama yang berbeda walaupun maksudnya sama. Istilah lainnya yang sama dengan SIG diantaranya sistem informasi lahan, sistem informasi Geo-dasar, sistem informasi keruangan, sistem informasi sumber daya alam dan sistem informasi analisis data spasial. Di beberapa negara, SIG dikenal dengan sebutan yang berbeda. Sebagai contoh, di kanada SIG dikenal dengan istilah geomatique.

B. Komponen SIG

Sedikit terdapat tiga komponen utama SIG, yaitu sistem komputer (hardware dan software), data spasial, dan pengguna (user).

Sistem komputer

Sistem komputer digunakan untuk memasukkan, menyimpan, mengelola, menganalisis, dan menampilkan informasi geografis. Sistem ini terdiri dari perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Perangkat keras dalam SIG terdiri dari komponen berikut:

1. CPU (central processing unit)

CPU merupakan perangkat keras yang mengendalikan seluruh operasi yang dibutuhkan oleh sistem komputer.

2. RAM (random access memory)

RAM merupakan perangkat yang berfungsi menyimpan data yang dimasukkan melalui peralatan untuk memasukkan data.

3. Perangkat penyimpanan data

Perangkat penyimpanan data yaitu perangkat yang berfungsi menyimpan data secara sementara maupun permanen dalam bentuk disket, harddisk (HDD), dan CD-ROM.

4. Perangkat untuk menampilkan data

Perangkat untuk menampilkan data yaitu perangkat yang berfungsi untuk memvisualisasikan data dan informasi misalnya, printer, layar monitor, plotter, dan OHP.

5. Piranti untuk memasukkan data

Piranti untuk memasukkan data yaitu perangkat yang digunakan untuk memasukkan data seperti papan ketik (keyboard), pemindai (scanner), tetikus (mouse), meja digitasi (digitizer), dan kamera digital.

Perangkat lunak (software) SIG terdiri atas komponen berikut.

1. Sistem operasi

Sistem operasi terdiri atas program-program yang berfungsi mengatur semua sumber daya dan tata kerja komputer. Sistem operasi juga menyediakan berbagai fasilitas dasar yang dapat digunakan program aplikasi untuk menggunakan perangkat keras yang terpasang dalam komputer, pengendalian komunikasi, pengolahan perintah-perintah, serta manajemen data dan file. Beberapa sistem operasi yang banyak digunakan antara lain microsoft windows, LINUX, UNIX, dan macintosh.

2. Software aplikasi

Software aplikasi terutama perangkat lunak SIG itu sendiri seperti arc info, arcview, erdas, ermapper, ilwis, atau mapinfo.

3. Sistem utilitas dan program pendukung seperti bahasa pemrograman.

Data spasial

Data spasial adalah data mengenai objek atau unsur geografis yang dapat diidentifikasi dan mempunyai acuan lokasi berdasarkan sistem koordinat tertentu. Data spasial meliputi data grafis dan data atribut.

Data grafis adalah data dalam bentuk gambar dalam komputer. Peta dalam komputer merupakan data grafis. Berdasarkan strukturnya, data tersebut dapat berupa dat vektor maupun data raster. Data vektor adalah data yang dinyatakan dalam bentuk koordinat (x,y). Data vektor pada peta berbentuk titik, garis, dan poligon. Untuk memasukkan data vektor digunakan digitizer, keyboard, dan mouse.

Data raster adalah data yang dinyatakan dalam bentuk baris dan kolom (grid dan cell). Gambar yang terbentuk terdiri dari sejumlah cell. Ukuran terkecil dari cell tersebut dikenal dengan istilah pixel (picture element). Untuk memasukkan data raster biasanya digunakan scanner. Sebuah citra merupakan data yang dimasukkan pada komputer dalam berntuk data raster. Citra tersebut dapat diubah menjadi data vektor. Data atribut (tabular) adalah data yang dinyatakan dalam bentuk teks atau angka. Contoh data atribut adalah nama jalan, sungai, gunung, nomor ruma, atau panjang dan lebar sungai.

Pengguna

Pengguna (user) memegang peranan penting dalam SIG, pengguna berfungsi memilih informasi yang diperlukan, membuat standar, membuat jadwal pemutakhiran, menganalisis hasil untuk tujuan tertentu, dan merencanakan aplikasi. Karena itulah pemanfaatan SIG tergantung pada pengguna yang memanfaatkannya.

C. Tahapan kerja dalam SIG

Tahapan kerja dalam SIG sebenarnya hampir sama dengan tahapan kerja ketika menggunakan cara konvensional. Hanya saja dalam SIG pekerjaan tersebut dilakukan dengan bantuan komputer yang memiliki program (aplikasi) SIG di dalamnya.

Secara umum, tahapan kerja dalam SIG meliputi tahap persiapan, tahap pembuatan peta digital, dan tahap analisis.

Tahap persiapan

Sebelum melakukan proses pemasukan data ke dalam komputer perlu dilakukan persiapan terlebih dahulu. Persiapan tersebut diperlukan agar pekerjaan pada tahap berikutnya lebih mudah, cepat, dan tertib, sehingga dapat mengurangi kesalahan pada tahap berikutnya. Adapun tahap persiapan terdiri dari kegiatan-kegiatan berikut.

1. Kajian kebutuhan

Pekerjaan SIG didasarkan akan kebutuhan informasi yang diperlukan masyarakat pengguna. Karena itulah sebelum memanfaatkan SIG, diperlukan konsultasi dan wawancara dengan pemegang proyek. Berdasarkan informasi tersebut dapat ditentukan sumber data yang diperlukan, lama pekerjaan, biaya, dsb.

2. Pembuatan konsep dan rencana analisis

Pada tahap ini dikembangkan konsep dan rencana analisis berupa penentuan peta-peta tematik yang dibutuhkan untuk ditumpangsusunkan. Pekerjaan analisis tersebut tentu saja didasarkan pada teori. Jadi peta-peta tematik yang dibutuhkan dan akan ditumpangsusunkan harus didasarkan pada teori atau bersifat logis.

3. Merancang siklus basis data

Pada tahap ini dilakukan perencanaan pengorganisasian data yang akan dimasukkan ke dalam sistem. Perencanaan tersebut didasarkan pada kajian kebutuhan dan sumber data yang harus disediakan.

Tahap pembuatan peta digital

Data dalam SIG terdiri dari data geografis dan data non grafis atau atribut. Biasanya, data grafis atau peta dibuat terlebih dahulu, kemudian baru dibuat data nongrafis. Tahapan pembuatan data grafis atau pembuatan peta digital adalah sebagai berikut.

1. Pemasukan data grafis

a. Persiapan

Sebelum didigitasi, harus dipastikan peta yang bersangkutan sudah mengalami koreksi dari berbagai kesalahan. Agar pekerjaan dilakukan lebih cepat dan tertib, perlu ditentukan prosedur kerja yang akan ditempuh. Misalnya, pada tahap awal, data grafis berupa jalan akan didigitasi semuanya lebih dahulu, kemudian sungai, batas peta, dst.

b. Digitasi peta

Pada tahap ini dilakukan pengubahan format data dari data analog berupa peta-peta dalam bentuk hardcopy atau dalam bentuk lembaran peta ke format digital. Data dalam bentuk format digital adalah data dalam bentuk numerik atau angka yang dapat diolah dengan komputer. Sebagaimana diketahui, komputer hanya dapat mengolah data dalam bentuk numerik. Pengubahan data digital menjadi data numerik (digitasi) dapat dilakukan dengan menggunakan meja digitasi atau digitizer atau dengan menggunakan pemindai (scanner).

Meja digitasi merupakan meja elektronik yang disambungkan dengan komputer. Peta yang akan didigitasi ditempatkan pada meja tersebut. Kemudian data grafis dalam bentuk titik, garis dan poligon di-digit sehingga gambar atau peta akan tampak pula pada layar monitor.

Prinsip kerja pemindai hampir sama dengan mesin fotokopi. Peta yang akan di-digit terlebih dahulu dipindai sehingga nampak pada layar komputer. Hasil pindaian tersebut masih berupa data dalam bentuk raster, sehingga jika kita akan membuat peta dalam bentuk vektor harus didigit dengan menggunakan mouse komputer.

2. Tahap editing

Hasil digitasi seringkali belum sempurna. Beberapa kesalahan seringkali ditemukan karena ketidaktelitian pada saat melakukan digitasi peta atau karena digitizer yang digunakan sudah mengalami gangguan. Karena itulah perlu perbaikan pada tahap editing. Kesalahan-kesalahan yang mungkin ditemui adalah dalam bentuk garis lebih (overshoot), garis yang terputus (undershoot), garis ganda, atau kesalahan label.

3. Tahap konversi

Peta hasil digitasi masih berupa koordinat meja digitasi. Peta tersebut masih terikat koordinat yang didigit, sehingga gambarnya pada komputer sesuai atu sama dengan peta sumber yang digunakan. Agar peta tersebut dapat dianalisis, koordinat hasil digitasi harus diubah terlebih dahulu. Pertama, koordinat meja digitasi diubah ke dalam bentuk koordinat lintang dan bujur. Kedua, peta yang sudah memiliki koordinat lintang dan bujur diubah dalam bentuk koordinat UTM (universal tranverse mercator). Koordinat bujur memiliki satuan derajat yang dapat dikonversi menjadi satuan panjang. Demikian pula, koordinat UTM memiliki satuan panjang unit meter. Dengan cara demikian, maka kita dapat menentukan panjang serta luas suatu fenomena geografi pada peta.

4. Tahap anotasi

Setelah tahap konversi, peta memasuki tahap anotasi. Tahap anotasi adalah tahap pemberian nama peta berbagai objek yang ada pada peta seperti nama kota, gunung, sungai, jalan, dll.

5. Tahap pemberian label (labelling)

Setiap objek yang berupa poligon pada peta harus diberi label. Label tersebut merupakan identitas bagi objek yang bersangkutan agar dapat dibedakan dengan objek lainnya. Hal ini sangat berguna, misalnya ketika objek tersebut akan diberi warna. Pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan mudah karena telah tersedia label untuk masing-masing poligon. Poligon yang memiliki label yang sama pasti akan memiliki warna yang sama. Label yang telah diisi data atributnya juga akan menjadi identitas pada legenda peta.

6. Pemasukan data nongrafis

Data nongrafis terdiri atas data tabular yang berupa angka maupun keterangan tentang peta atau data grafis. Data tersebut memberi penjelasan objek yang ada pada peta, misalnya panjang dan lebar jalan, luas hutan atau panjang sungai. Data ini dimasukkan dengan menggunakan keyboard pada komputer. Setiap program aplikasi SIG disertai program pengolah data seperti Exell dan Dbase.

Tahap analisis

Pada tahap ini dilakukan analisis sesuai dengan kebutuhan yang telah ditentukan pada tahap persiapan. Pekerjaan pengukuran panjang dan luas dari objek yang ada pada peta juga merupakan bagiand dari tahap analisis. Analisis biasanya dilakukan dengan melakukan penggabungan dan tumpang susun beberapa peta (overlay) suatu daerah dengan skala yang sama. Penggabungan tersebut menghasilkan suatu peta baru atau peta komposit yang siap dianalisis lebih lanjut sesuai kebutuhan.

D. Penginderaan SIG secara konvensional

Pada dasarnya pengoperasian SIG dapat juga dilakukan dengan cara konvensional. Hanya saja, cara konvensional biasanya memakan waktu yang lama dengan basis data yang relatif terbatas. Selain itu, jika akan dilakukan update, data yang ada harus diganti seluruhnya.

Pengoperasian SIG secara konvensional dilakukan dengan menggunakan teknik kartografi. Pembuatan peta dilakukan pada selembar kertas atau plastik transparan. Peralatan yang diperlukan sama dengan jika kita membuat peta secara manual seperti spidol, mistar, lettering set, dan rapido. Tahapan kerjanya juga sama, dimulai dengan persiapan, pembuatan peta, dan analisis. Hanya saja, pekerjaan dilakukan secara manual. Adapun tahapan pengoperasian SIG secara konvensional adalah tahap persiapan, tahap pembuatan peta, tahap analisis, dan tahap pemindahan peta.

Tahap persiapan

Pada tahap persiapan dilakukan kajian kebutuhan dan pembuatan konsep serta peta tematik yang dibutuhkan. Pada tahapan ini dilakukan pengumpulan data dari berbagai sumber.

Tahap pembuatan peta

Pembuatan peta dilakukan dengan menggunakan cara konvensional. Langkah-langkah kerjanya adalah sebagai berikut.

1. Siapkanlah peta yang telah dikumpulkan dari berbagai sumber untuk digambar pada plastik transparan. Peta-peta tersebut harus memiliki skala yang sama. Jika tidak, buatlah peta baru dengan skala yang sama. Gunakanlah salah satu peta sebagai rujukan skala.

2. Siapkan plastik transparan dengan ukuran tertentu sesuai dengan kebutuhan. Siapkanlah bahan dan peralatan untuk menggambar peta pada plastik transparan. Misalnya, spidol (minimal 4 warna), selotip, dan gunting.

3. Tempatkan peta tematik yang digambar pada meja gambar. Agar tidak bergeser, rekatkan bagian sudut peta pada meja gambar dengan menggunakan selotip. Tempelkanlah plastik transparan di atasnya. Gambarlah peta tersebut pada plastik transparan dengan spidol sampai semuanya selesai. Lakukanlah pekerjaan tersebut untuk peta-peta tematik lainnya sesuai kebutuhan.

Tahap analisis

Jika pembuatan peta sudah selesai dilakukan, maka langkah berikutnya adalah melakukan analisis. Analisis dilakukan dengan menumpangsusunkan peta-peta yang sudah digambar pada plastik transparan. Cara menumpangsusunkan peta adalah sebagai berikut.

1. Ambil sebuah peta tematik, kemudian gambar ulang peta tersebut lengkap bersama seluruh objek pada plastik transparan. Peta ini dapat disebut dengan peta komposit.

2. Setelah selasai, kemudian ambil peta tematik lainnya. Letakkan peta komposit diatas peta tematik tersebut. Gambarlah seluruh objek yang tampak pada peta transparan kedua.

3. Lakukan hal yang sama terhadap seluruh peta tematik.

Pembuatan peta komposit juga bisa dilakukan sekaligus. Caranya, tumpangsusunkan seluruh peta tematik. Kemudian, letakkan selembar plastik transparan di atas susunan peta-peta tematik tersebut. Gambarlah peta dan seluruh objek yang tampak. Peta yang berada di tumpukan paling atas merupakan peta gabungan atau komposit dari peta-peta tematik yang telah digambar sebelumnya.

Tahap pemindahan peta

Pemindahan peta komposit dari plastik transparan ke atas selembar kertas kalkir yang seukuran dengan plastik tersebut. Gunakanlah rapido dan lettering set untuk menggambar pada kertas kalkir. Gambar ulang semua objek yang ada pada peta komposit dan buatlah legenda peta serta atribut lainnya.

E. Pemanfaatan SIG

Walaupun para ahli geografi memelopori pengembangan SIG, pemanfaatannya tidak lagi menjadi monopoli para ahli geografi. Hal itu terjadi karena banyak sekali bidang kehidupan dan disiplin ilmu lain yang memerlukan informasi tentang ruang atau lokasi. Pengusaha real estate atau perumahan sangat memerlukan informasi lokasi usaha proyek yang paling tepat atau menguntungkan. Demikian juga petugas pemadam kebakaran sangat membutuhkan informasi yang cepat dan tepat tentang lokasi kebakaran sehingga cepat sampai ke lokasi. Berikut ini berbagai bidang yang memanfaatkan SIG seperti yang dijelaskan oleh yousman.

1. Bidang pendidikan

SIG digunakan untuk menentukan lokasi sekolah, membuat sistem informasi pendidikan, dan sebagai alat bantu pemahaman pada pembelajaran geografi.

2. Bidang transportasi dan perhubungan

SIG digunakan dalam manajemen pemeliharaan dan perencanaan perluasan jaringan transportasi, penentuan jalur transportasi yang efektif, analisis rawan kemacetan dan bahaya kecelakaan, serta inventarisasi jaringan transportasi.

3. Bidang telekomunikasi

di bidang ini, SIG dimanfaatkan dalam perencanaan, pemeliharaan, dan analisis perluasan jaringan telekomunikasi. SIG juga dimanfaatkan untuk pembuatan sistem informasi pelanggan dan fasilitas umum telekomunikasi seperti telepon umum, wartel, atau warnet. SIG dapat pula dimanfaatkan untuk menginventarisasi jaringan telekomunikasi dan pelanggan TV kabel, antena parabola, dan sejenisnya.

4. Bidang ekonomi, bisnis, dan marketing

SIG bermanfaat untuk menentukan lokasi-lokasi bisnis yang prospektif untuk bank, pasar swalayan, supermarket, mesin ATM, kantor cabang, konter, ruang pamer, outlet, gudang, dan sejenisnya dengan memperhatikan lokasi konsumen atau pelanggan.

5. Bidang militer

SIG sangat diperlukan dalam penyediaan data spasial untuk analisis rute perjalanan logistik dan peralatan perang, pembuatan peta elektronik yang dihubungkan dengan radar yang akan mendeteksi kendaraan-kendaraan ataupun pesawat-pesawat militer musuh maupun untuk usaha pertahanan negara.

6. Bidang geologi, pertambangan, dan perminyakan

SIG digunakan untuk menentukan lokasi-lokasi pertambangan, geologi, dan perminyakan yang memperhitungkan keamanan para pekerja tambang dan kelestarian lingkungan. SIG dapat pula digunakan untuk menganalisis limbah yang merupakan hasil sampingan dari industri tambang serta menginventarisasi manajemen dan perizinan proyek pertambangan.

7. Bidang lingkungan

SIG digunakan untuk melakukan analisis dan pemantauan pencemaran udara, limbah berbahaya, pencemaran air, sungai, danau, laut, evaluasi pengendapan lumpur atau sedimen, baik di sekitar danau, sungai, atau pantai.

8. Bidang perpajakan

SIG dapat dimanfaatkan untuk memperkirakan potensi pendapatan dari sektor pajak PBB (pajak bumi dan bangunan). Pada bidang ini, SIG digunakan untuk membuat sistem informasi penarikan pajak dari sektor periklanan yang berasal dari perizinan dan pemasangan papan iklan komersial dan billiboard yang terkait dengan data posisi, ruang, dan masa berlaku.

9. Bidang perencanaan

SIG dapat menjadi alat yang tepat dalam perencanaan permukiman transmigrasi, perencanaan tata ruang wilayah, perencanaan kota, perencanaan pengembangan desa tertinggal, perencanaan lokasi dan relokasi industri, pasar, permukiman, dsb.

10. Bidang sumber daya alam

SIG dimanfaatkan untuk inventarisasi, manajemen dan kesesuaian lahan untuk pertanian, perkebunan, kehutanan, perencanaan tata guna lahan, analisis daerah rawan bencana alam, serta analisis dan pemantauan daerah-daerah kebakaran hutan.

11. Bidang kesehatan

SIG dapat digunakan untuk menentukan distribusi persebaran suatu penyakit, pola atau model penyebaran penyakit. Penentuan distribusi rumah sakit, puskesmas, fasilitas kesehatan maupun jumlah tenaga medis dapat pula dilakukan dengan SIG.

12. Bidang hidrografi dan kelautan

SIG bermanfaat dalam kegiatan inventarisasi dan manajemen stasiun pengamatan pasang surut, manajemen daerah pesisir pantai, manajemen daerah wisata laut, taman laut, serta manajemen pesisir.

13. Bidang utilitas

SIG dapat digunakan dalam inventaris dan manajemen informasi jaringan pipa air minum, sistem informasi pelanggan perusahaan air minum, perencanaan dan perluasan jaringan pipa air minum. SIG juga dimanfaatkan untuk inventarisasi dan manajemen informasi jaringan listrik, penentuan distribusi penempatan tong-tong sampah, wc umum, serta fasilitas-fasilitas umum lainnya.

Kemampuan-kemampuan SIG sering dimanfaatkan dalam kajian geografi. Banyak topik kajian yang dapat diolah atau dianalisis dengan menggunakan SIG. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

a. Penentuan arahan pemanfaatan lahan

b. Perencanaan tata ruang

c. Evaluasi kemampuan dan kesesuaian tanah

d. Penentuan lokasi pusat pertumbuhan wilayah

e. Analisis tentang lingkungan

f. Rehabilitasi dan konservasi lahan

g. Prediksi ketinggian banjir

h. Prediksi tingkat kekeringan

i. Prediksi kebakaran hutan

j. Penentuan tingkat bahaya erosi.

Kemampuan SIG meliputi hal-hal sebagai berikut.

1. Mencari lokasi yang memenuhi persyaratan atau kriteria tertentu. Misalnya, mencari lokasi untuk membangun permukiman, pusat perdagangan, perkebunan, atau pusat pemerintahan.

2. Menyajikan kecenderungan perubahan atau perkembangan dari suatu fenomena. Misalnya, perubahan luas permukiman serta perkembangan kepadatan penduduk.

3. Menganalisis pola suatu fenomena tertentu misalnya pola sebaran penyakit.

4. Membuat model-model seperti model untuk evaluasi kesesuaian lahan atau model peruntukan lahan.

5. Mencari dan menunjukkan lokasi suatu objek tertentu serta memberikan keterangan mengenai objek tersebut. Lokasi tersebut dapat dijelaskan dengan menggunakan beberapa cara seperti kode lokasi (kode pos), nama lokasi, atau rujukan geografisnya (koordinat-koordinat geografi). Misalnya untuk menentukan lokasi penangkapan ikan.

Salain topik-topik tersebut, masih banyak topik kajian lainnya yang dapat dianalisis dan dicari solusinya dengan menggunakan SIG. Pada bab ini akan disajikan beberapa contoh pemanfaatan SIG terutama untuk perencanaan tata ruang dan inventarisasi sumber daya alam.

Contoh 1

Sebuah perusahaan real-estate bermaksud membangun permukiman. Perusahaan tersebut menemui kendala untuk menentukan lokasi mana yang paling sesuai agar permukiman tersebut laku jika dipasarkan kepada masyarakat. Masalah perusahaan tersebut dapat diatasi dengan menggunakan SIG.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

1. Mengidentifikasi persyaratan permukiman yang diinginkan.

a. Ketersediaan air dilihat dari jumlah dan kualitasnya.

b. Lokasi strategis (dekat dengan berbagai fasilitas pelayanan umum seperti pertokoan, pasar, rumah sakit, pusat pemerintahan).

c. Aksesibilitas tinggi dan bebas macet.

d. Tanahnya subur.

e. Wilayahnya datar.

f. Aman dari bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

2. Mencari dan mengumpulkan data atau informasi tentang persyaratan yang diperlukan.

3. Melakukan pemetaan data atau informasi, sehingga dihasilkan peta-peta berikut:

a. Peta potensi air

b. Peta kualitas air

c. Peta lokasi pusat pelayanan

d. Peta jaringan jalan

e. Peta kesuburan tanah

f. Peta kemiringan lereng

g. Peta wilayah rawan bencana.

4. Melakukan tumpang susun (overlay) dari peta-peta tersebut, sehingga dihasilkan peta baru yang menunjukkan alternatif lokasi permukiman.

Berdasarkan hasil tumpangsusun peta tersebut, dapat ditentukan lokasi mana saja yang sesuai dengan persyaratan perusahaan. Dengan demikian perusahaan dapat memilih lokasi yang tepat.

Contoh 2

Sebuah provinsi baru hasil pemekaran bermaksud menentukan salah satu wilayahnya sebagai pusat pertumbuhan atau Ibukota. Tentu saja untuk menentukan pusat pertumbuhan tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan karena memerlukan persyaratan tertentu, baik dari aspek sosial-ekonomi maupun kondisi fisik wilayah.

Dari aspek sosial-ekonomi, suatu wilayah pusat pertumbuhan harus memiliki kondisi yang lebih baik dilihat dari produktivitas penduduknya. Kondisi masyarakat (tingkat pendidikan, sosial, ekonomi), tingkat adopsi atau penerimaan informasi, serta persentase desa miskin di wilayah tersebut. Dari aspek fisik tentunya harus memenuhi syarat kesesuaian untuk permukiman dan industri (kecukupan air, bebas dari bencana alam, daerah datar, tanah subur, aksebilitas jalan, dan sebagainya). SIG digunakan agar penentuan lokasi tersebut tepat sesuai dengan persyaratan.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikur.

1. Melakukan studi untuk mencari berbagai data yang berkaitan dengan kondisi fisik dan sosial ekonomi sejumlah wilayah yang ada di provinsi tersebut.

2. Membuat pete-peta dari data tersebut dengan SIG menggunakan peta dasar yang skalanya sama.

3. Melakukan skoring terhadap data yang ada, sehingga diperoleh nilai angka tertentu untuk semua daerah.

4. Berdasarkan hasil skoring dapat terlihat daerah mana saja yang paling sesuai untuk dijadikan pusat pertumbuhan.

Sistem informasi geografis dapat digunakan untuk menyajikan kecenderungan perubahan atau perkembangan dari suatu fenomena. Misalnya, perubahan luas wilayah pemukiman,

Manfaat SIG sangat terasa pada saat akan memetakan wilayah permukiman pascatsunami aceh tahun 2004.

Melalui citra satelit kita dapat melihat perubahan luas wilayah yang terjadi. Melalui citra satelit itu juga para ahli dari berbagai disiplin ilmu dapat menganalisis wilayah rawan bencana. Dengan demikian, penentuan wilayah permukiman yang akan dibangun kembali dapat dilakukan lebih cepat.

Setelah mempelajari bab ini, kamu telah mengetahui bahwa informasi geografis itu pada dasarnya mudah untuk dipelajari. Dalam bab ini kamu telah memahami pengertian, komponen, langkah-langkah operasi, dan pemanfaatan SIG.

Mudah bukan?

Baca Materi Selanjutnya Pola Keruangan Desa dan Kota
Read More »