Peta dan Pemetaan

Peta dan Pemetaan - Halo Bro Blog Panduan Startup, Pada Postingan yang anda baca kali ini dengan judul Peta dan Pemetaan , Saya telah mempersiapkan artikel ini dengan sebaik mungkin untuk anda baca dan ambil ilmu di dalamnya. Semoga isi Artikel Artikel Peta dan Pemetaan, yang saya buat ini bisa anda pahami. Okelah, selamat membaca.

Judul : Peta dan Pemetaan
link : Peta dan Pemetaan

Baca juga


Peta dan Pemetaan

Peta dan Pemetaan 

Ilustrasi Peta dan Pemetaan

Pada bab ini kamu diharapkan mampu:

1. Menjelaskan pengertian peta

2. Membandingkan berbagai jenis peta

3. Mengidentifikasi komponen dan kelengkapan peta

4. Mempraktikkan cara membaca peta

5. Mempraktikkan membuat peta; serta

6. Menganalisis lokasi industri dan pertanian dengan memanfaatkan peta

Kajian geografi tidak terlepas dari penggunaan peta. Peta merupakan sarana bantu geografi yang terpenting. Melalui peta, kita akan dapat mengetahui berbagai informasi mengenai wilayah lain.

Dalam bab ini akan dipelajari mengenai pengertian peta, jenis peta, komponen dan kelengkapan peta, membaca peta, serta menentukan lokasi industri.

Kembali Ke daftar Isi Baca Geografi

Pengertian peta

Peta merupakan alat bantu yang memiliki peranan penting dalam ilmu geografi. Peta digunakan sebagai alat bantu atau media yang memudahkan penyampaian gagasan atau informasi kepada orang lain.

Secara umum, peta merupakan gambaran konvensional permukaan bumi yang diskalakan. Penggambaran kenampakan tersebut pada peta, dilakukan dengan menggunakan simbol. Simbol-simbol tersebut melambangkan kenampakan-kenampakan yang ada di permukaan bumi.

Beberapa definisi peta yang dikemukakan oleh para ahli kartografi adalah sebagai berikut.

1. Peta merupakan gambaran keadaan permukaan bumi, termasuk unsur-unsur alamiah dan unsur buatan manusia. Dalam penggambarannya, unsur-unsur tersebut diwakili oleh simbol-simbol tertentu.

2. Peta merupakan gambaran permukaan bumi yang diperkecil menggunakan skala (perbandingan) tertentu.

3. Peta digambarkan pada permukaan yang datar (kertas, kain, atau kanvas). Peta yang digambarkan pada permukaan yang melengkung disebut globe.

4. Informasi yang ditampilkan pada peta merupakan informasi yang lebih rinci dibandingkan dengan globe. Informasi yang ditampilkan pada peta bersifat khusus (tematik) sesuai dengan keperluan.

5. Peta digambarkan dengan menggunakan proyeksi tertentu. Hal ini dimaksudkan agar kesalahan yang mungkin terjadi dapat diperkecil.

Untuk menggambarkan kenampakan-kenampakan permukaan bumi pada peta, seorang pembuat peta harus menguasai beberapa bidang ilmu. Erwin Raisz menyatakan bahwa seorang kartografer harus menguasai 50% geografi, 30% seni, 10% matematika, dan 10% ilmu lainnya.

Kartografi merupakan ilmu pengetahuan, teknik, dan seni yang mempelajari tentang perpetaan, termasuk studi pembuatan peta, macam-macam peta, penggunaan, penyimpanan, dan pengawetan peta. Orang yang ahli di bidang kartografi disebut kartografer.


Jenis peta

Sesuai denga fungsinya, peta merupakan alat bantu atau media yang digunakan untuk menyampaikan informasi atau gagasan pada pihak lain. Sesuai dengan fungsi dan kepentingan penggunaan peta, dikenal beberapa jenis peta. Secara umum, peta dikelompokkan berdasarkan isi peta, skala peta, nilai data, dan sifat data yang ditampilkan pada peta.

Berdasarkan isinya, peta dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu peta umum dan peta khusus.

1. Peta umum

Peta umum atau sering disebut dengan peta topografi, merupakan peta yang berisi semua kenampakan alami maupun kenampakan buatan manusia. Peta jenis ini berisi bermacam-macam data yang dituangkan dalam satu gambar. Data-data tersebut antara lain meliputi grid (lintang dan bujur), pola aliran sungai, relief atau ketinggian tempat, nama-nama geografi, wilayah administrasi (propinsi, kabupaten,/kota, negara), perhubungan (jalan raya atau jalan kereta api), dan data-data lain seperti hutan, rawa, dan danau.

2. Peta khusus


Disebut juga peta tematik karena merupakan peta yang dibuat dengan tujuan tertentu. Oleh karena itu, informasi yang diberikan dalam peta tersebut merupakan informasi dengan satu tema tertentu. Pemberian judul untuk peta tematik disesuaikan dengan tema atau tujuan pemetaannya. Misalnya peta sungai, peta jenis tanaman, peta jenis tanah, peta kepadatan penduduk, atau peta lokasi perdagangan.

Dibandingkan dengan peta umum, peta khusus relatif sederhana dan tidak terlalu rumit. Kenampakan pada peta khusus digambarkan dengan visualisasi yang baik, sehingga peta mudah dipahami. Adapun kelemahan peta khusus adalah tidak nampaknya kaitan antara unsur-unsur yang ada di permukaaan bumi.

Jenis peta sering dikaitkan dengan kedalaman informasi yang diberikan. Ada peta detail yang memberikan informasi secara lengkap, peta semi-detail, ada pula peta ikhtisar yang haya memberikan gambaran secara sekilas. Namun demikian, detail tidaknya suatu peta dipengaruhi oleh tujuan pembuatan serta skala yang digunakan. Berdasarkan skala peta yang digunakan, peta dikelompokkan menjadi tiga, yaitu peta skala besar, peta skala sedang, dan peta skala kecil.

· Peta skala besar memiliki skala antara 1 : 5000 sampai 1 : 250.000

· Peta skala sedang memiliki skala antara 1 : 250.000 sampai 1 : 500.000

· Peta skala kecil memiliki skala antara 1 : 500.000 sampai 1 : 1.000.000

Berdasarkan sifat nilai data yang dikandungnya, peta dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu peta kuantitatif dan peta kualitatif.

a. Peta kuantitatif

Peta kuantitatif merupakan peta yang akan menjawab lokasi keberadaan suatu objek beserta besar nilai objek tersebut. Contoh peta kuantitatif misalnya peta kepadatan penduduk yang memberikan nilai jumlah penduduk per 1 km persegi atau 1 ha pada lokasi-lokasi tertentu.

b. Peta kualitatif

Peta kualitatif merupakan peta yang hanya menunjukkan keberadaan suatu objek di lokasi tertentu. Contoh peta kualitatif misalnya, peta lokasi perkebunan teh atau perkebuanan sayur-mayur di puncak, jawa barat. Informasi yang diberikan dalam peta ini tidak dilengkapi dengan nilai objek yang dimaksud.

Berdasarkan sifat datanya, jenis peta dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu peta stationer dan peta dinamis.

a. Peta stationer

Peta stationer merupakan peta dengan sifat data yang menggambarkan permukaan bumi yang memiliki sifat tetap atau stabil. Contoh peta stationer misalnya peta batimetri (kedalaman laut), peta topografi, dan peta jalur pegunungan atau jalur gempa.

b. Peta dinamis


Peta dinamis merupakan peta yang menggambarkan keadaan permukaan bumi yang selalu berubah-ubah atau tidak stabil. Contoh peta dinamis antara lain peta persebaran kepadatan penduduk atau peta jaringan jalan.

Peta, selain disajikan dalam bentuk lembaran terpisah dapat pula dikumpulkan dalam satu buku. Peta yang dibukukan disebut atlas. Misalnya kumpulan peta provinsi di Indonesia dapat dibukukan menjadi atlas nasional Indoneasia. Berdasarkan isinya atlas dapat dibedakan menjadi atlas umum dan atlas khusus. Atlas umum adalah atlas yang memuat informasi yang bersifat umum tentang wilayah tertentu. Berdasarkan cakupan wilayahnya, atlas umum dapat dibedakan menjadi atlas nasional, atlas regional, dan atlas dunia. Atlas khusus adalah atlas yang memuat peta berisi informasi khusus. Misalnya, Atlas jalan jakarta.

Jenis-jenis peta umum yaitu peta topografi, peta kartografi, dan peta dunia.

· Peta topografi merupakan peta yang hanya menggambarkan wilayah tertentu di permukaan bumi. Informasi yang diberikan mencakup informasi ketinggian dan kemiringan tempat, serta objek fisik utama lainnya seperti sungai, danau, atau hutan.

· Peta chartography (kartografi) merupakan peta yang menggambarkan sebagian permukaan bumi. Misalnya peta yang hanya menggambarkan benua atau setengah bola bumi.

· Peta dunia merupakan peta yang menggambarkan seluruh bagian permukaan bola bumi.

Komponen dan kelengkapan peta

Sesuai denga fungsinya sebagai penyampai informasi, peta harus dibuat secara lengkap dan sederhana. Peta yang lengkap akan memuat komponen seperti judul peta, isi peta, simbol peta, skala peta, proyeksi peta, grid, arah (orientasi peta), dan legenda.

1. Judul peta


Judul peta ini sangat penting karena menunjukkan inti seluruh isi peta. Judul selalu ditulis dengan huruf besar dan diletakkan pada tempat yang paling mudah dilihat.

2. Simbol peta

Simbol peta adalah lambang-lambang yang terdapat pada suatu peta yang menggambarkan semua informasi yang dimaksud dalam peta tersebut. Simbol dapat dianggap sebagai isi utama suatu peta. Oleh karena itu, simbol harus jelas serta mudah dipahami maksudnya.

Berdasarkan bentuknya, dikenal berbagai macam simbol, antara lain simbol titik , simbol garis, simbol luas, dan simbol volume.

a. Simbol titik umumnya berbentuk titik atau gambaran yang mandiri dan dianggap dapat mewakili suatu kenampakan di suatu lokasi. Gambarannya sendiri dapat berupa titik, tetapi dapat pula berupa bentuk simbol lain. Contoh gambaran yang sering digunakan untuk simbol titik misalnya simbol yang bersifat geometris (bentuk lingkaran, segitiga, atau segi empat) bersifat menggambarkan atau piktorial (misalnya, gambar jangkar untuk menggambarkan suatu pelabuhan), menggunakan huruf (misalnya huruf Au untuk menunjukkan adanya tambang emas (Aurum)), atau berupa titik yang digunakan untuk mewakili suatu objek (misalnya setiap 100 penduduk diwakili sebuah titik).

b. Simbol garis pada umumnya menunjukkan suatu garis yang menjadi penghubung suatu daerah. Contoh simbol garis yang menjadi penghubung, misalnya jalan yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya. Simbol garis juga dapat menjadi pemisah, misalnya garis batas administrasi yang memisahkan satu kabupaten dengan kabupaten lainnya.

Simbol garis ada yang mempunyai nilai kuantitatif, misalnya garis kontur. Dalam peta topografi, garis kontur merupakan garis ketinggian. Garis tersebut menghubungkan titik-titik dengan nilai ketinggian yang sama. Beda tinggi antara dua garis kontur disebut sebagai interval kontur. Simbol-simbol garis kuantitatif yang lain yaitu flow line (simbol arus). Simbol ini menunjukkan besarnya arus perpindahan suatu data.

Contohnya, adanya arus perdagangan antarpulau di Indonesia. Semakin banyak barang yang dikirim, semakin tebal garis yang tampak pada peta.

c. Simbol luas digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu data dianggap merata di suatu wilayah tertentu. Dengan demikian, seluruh permukaan dari wilayah tersebut dapat digambarkan oleh simbol bidang yang sama dengan wilayah yang bersangkutan. Misalnya, penggunaan tanah di suatu wilayah, ada bagian yang digunakan untuk pertanian, perkebunan, tanah kuburan, dan ada pula yang digunakan untuk pemukiman. Adapun peta kepadatan penduduk merupakan contoh penggunaan simbol luas dari data kuantitatif. Simbol yang menutupi wilayah tersebut mempunyai besaran (nilai kuantitatif).

d. Simbol volume merupakan simbol yang ditampilkan secara tiga dimensi, sehingga penampilannya menjadi lebih hidup. Simbol ini dapat merupakan perubahan bentuk dari smbol titik, simbol garis, atau juga simbol luas. Simbol ini nampak lebih indah, tetapi pembuatannya lebih sulit.

3. Skala peta

Skala peta menujukkan perbandingan jarak antara dua titik atau luas dalam gambar terhadap jarak dua titik tersebut di permukaan bumi. Skala peta dapat memberikan gambaran detail tidaknya suatu peta. Semakin besar skala peta, isi informasi yang disajikan akan semakin rinci. Begitu juga sebaliknya, semakin kecil skala peta, maka data yang disajikan menjadi lebih umum. Di dalam suatu peta, peran skala sangat penting. Kesalahan dalam penulisan skala akan mempengaruhi hasil pembacaan peta. Skala peta umumnya dtuliskan dengan tiga cara, yaitu skala numerik, skala grafik, dan skala inch to mile.

a. Skala numerik merupakan skala yang ditulis dengan angka. Angka tersebut menunjukkan perbandingan antara ukuran dalam peta dan ukuran sebenarnya. Dalam penulisannya, ukuran dalam peta disebut lebih dahulu atau menjadi pembilang. Sementara itu, ukuran sebenarnya ditulis kemudian atau sebagai penyebut, misalnya:

1 : 50.000

Berarti, setiap satu cm satuan jarak di peta, mewakili jarak sepanjang 50.000 cm satuan jarak muka bumi.

Kelebihan dari penulisan skala angka adalah mudah dibaca karena tertulis angkanya. Adapun kekurangannya adalah apabila terjadi pengecualian atau pembesaran peta, maka skala harus dihitung kembali berdasarkan perbesaran peta tersebut. Angka skala yang terbaru harus ditulis ulang setelah terjadi perubahan.

b. Skala grafik merupakan skala yang disajikan dalam bentuk suatu batang atau garis yang dilengkapi tanda-tanda batas suatu interval tertentu. Pada setiap garis diberikan angka yang menunjukkan ukuran jarak sebenarnya. Misalnya, untuk menunjukkan bahwa setiap 2 cm jarak di peta setara dengan 1 km jarak sebenarnya di muka bumi, skala grafiknya dibuat dengan cara: jarak antara dua garis yang panjangnya 2 cm, ditulis angka 1 km di sebelah kiri serta angka 2 km di sebelah kanan. Dengan demikian, dapat diartikan garis sepanjang 2 cm mewakili panjang 1 km di lapangan. Nilai tersebut dapat disetarakan dengan skala 1 : 50.000.

Kelebihan penyajian dengan cara ini ialah apabila peta diperkecil atau diperbesar secara optis, misalnya dengan fotokopi, maka panjang dari batang skala akan langsung berubah sejalan dengan perubahan ukuran gambar pada peta. Kekuranngan penulisan skala dengan cara ini hampir tidak ada, kecuali apabila penempatan skala yang berupa gambar batang ini kurang sesuai sehingga mengganggu keserasian gambar secara keseluruhan.

c. Skala Inch to Mile merupakan suatu skala yang menggunakan perbandingan antara inchi dan mil. Penulisan skala inch to mile merupakan suatu ukurann yang lazim digunakan di beberapa negara eropa, terutama Inggris. Sebagai negara yang terbiasa menggunakan ukuran meter, maka ukuran inchi ini terasa lebih sulit karena angka-angkanya memang tidak merupakan kelipatan yang bulat. secara umum, digunakan 1 mil setara dengan 63.360 inchi. Maka apabila pada peta tertulis skala 1 inchi to miles, berarti skala peta tersebut adalah 1:63.360.

Amerika Serikat melakukan kompromi antara pengguna satuan meter dan inchi dengan menggunakan peta skala 1:62.500, 1:125.000, dan skala 1:250.000. Skala tersebut digunakan untuk mendekati ukuran meter dari peta dengan skala (dalam meter) masing-masing 1:50.000, 1:100.000, dan peta 1:200.000, dasar dari perhitungan tersebut dikaitkan dengan satu mil yang penjangnya setara dengan 1,6093 km atau satu kilometer setara dengan 0,621 mil.

Dalam peta yang mengandung garis kotur, terutama peta topografi, ada suatu hal yang berlaku umum bahwa jarak antara dua garis kontur (interval kontur) adalah sebesar setengah dari angka penyebut skala dibagi seribu atau seperseribu kali penyebut skala peta. Misalnya, untuk peta dengan skala 1:50.000, maka garis konturnya tergambar untuk setiap beda tinggi 25 meter . Adapun pada peta dengan skala 1:100.000, garis kontur tergambar untuk setiap beda tinggi 50 meter. Artinya semakin kecil skala peta (semakin besar angka penyebutnya), semakin besar pula interval konturnya.

Untuk keperluan-keperluan tertentu , sering dilakukan perubahan ukuran peta, yang berarti pula terjadi perubahan skala peta. Berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mengubah ukuran peta antara lain dengan mekanis, fotografis, dan optis.

a. Cara mekanis mudah dilakukan adalah dengan menggunakan peralatan sederhana seperti pantograph. Hasil pengubahan ukuran peta dengan cara ini sangat tergantung pada kecermatan tangan pekerja di dalam menggerakkan alat. Cara yang lebih sederhana dilakukan menggunakan grid-grid yang beda luasnya. Hasil pengubahan peta dengan cara ini biasanya terlihat lebih besar.

b. Cara fotografis biasanya dilakukan dengan menggunakan kamera reproduksi. Hasil pengubahan pada cara ini biasanya cukup bagus, tetapi biayanya mahal. Cara ini jarang digunakan, kecuali jika akan melakukan penggandaan peta secara besar-besaran.

c. Cara optis, termasuk di dalamnya dengan menggunakan mesin fotokopi. Pengubahan ukuran peta dengan cara opti ini sangat mudah dilakukan. Biaya yang diperlukan pun relatif murah. Dengan mesin fotokopi, dapat dilakukan pengubahan ukuran peta sesuai dengan kehendak pengguna peta. Namun, perlu diingat penyimpangan perubahan dengan cara ini cukup besar. Hal ini karena perubahan ukuran menggunakan mesin fotokopi pada hakekatnya hanya tepat di daerah sekitar “titik api” (fokus) sinar lampu. Semaki jauh jarak garis pada peta dengan jarak titik api sinar lampu, penyimpangan akan semakin besar.

Pengubahan skala dengan cara optis maupun cara fotografis, sering kali tidak langsung menunjukkan perubahan skalanya. Dengan kondisi demikian sering kali pengguna tidak tahu bahwa skala sudah berubah, khususnya jika menggunakan skala angka. Misalnya, skala sebuah peta sudah diubah dari skala 1:100.000 menjadi 1:50.000. Namun, pada peta yang baru masih tertera skala aslinya yaitu 1:100.000. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu dihitung skala peta yang telah mengalami perubahan. Skala yang baru dihitung berdasarkan persentase perbesaran atau pengecilan peta dengan mesin fotokopi, biasanya skala diubah dengan ketentuan persen.

Contoh:

Suatu peta diperkecil sebesar 45% dari ukuran sebenarnya. Apabila pada peta sebenarnya memiliki skala 1:90.000, maka cara menghitung skala hasil perubahannya adalah:


Sehingga skala yang baru:

1:200.000

Kadangkala ditemukan peta yang tidak tertera skalanya. Untuk mengetahui besarnya skala, harus dicari referensi berupa peta di daerah yang sama dengan skala yang jelas. Kemudian, diambil suatu kenampakan yang ada pada kedua peta tersebut. Misalnya, kenampakan yang diambil adalah jalan A-B. Panjang jalan A-B tersebut dihitung menggunakan peta referensi. Dengan demikian, peta tanpa skala tersebut dapat diketahui skalanya.

Perlu diperhatikan, skala peta, selain menggambarkan perbandingan jarak juga menggambarkan detail atau tidaknya sebuah peta.

Pada saat kita memperbesar atau memperkecil peta (memperbesar atau memperkecil skala peta), informasi yang ada di dalam peta tidak berubah. Tetapi yang berubah hanya ukuran dan jaraknya saja. Karena itu, peta yang sudah diubah skalanya kurang memadai untuk digunakan sebagai dasar menganalisis kenampakan alam atau buatan.

4. Proyeksi Peta

Bentuk pola bumi sebetulnya tidak bulat penuh, melainkan membentuk bola agak lonjong yang disebut sebagai elipsoida. Peta adalah gambaran muka bumi di atas bidang datar. Oleh karena itu, untuk mengubah bentuk elipsoida ke dalam bidang datar diperlukan cara tertentu yang disebut proyeksi peta.

Apabila peta berbentuk bola bumi langsung dipindahkan ke dalam bidang datar tanpa proyeksi, hasilnya adalah bidang datar yang terpotong-potong menjadi beberapa bagian, terutama untuk daerah kutubnya.

Proyeksi peta dilakukan untuk menghindari kesalahan yang mungkin terjadi akibat perubahan bentuk dari bentuk bola ke bidang datar. Adapun kesalahan-kesalahan yang ingin dihindari, terutama karena beberapa hal berikut.

a. Bentuk-bentuk dipermukaan bumi tidak mengalami perubahan. Artinya bentuk-bentuk daratan dan lautan pada globe dan peta harus sama.

b. Luas harus tetap. Artinya luas daerah sebenarnya di muka bumi harus sama denga luas daerah tersebut pada peta setelah dihitung menggunakan skala peta.

c. Jarak tempat sesungguhnya di muka bumi tidak mengalami perubahan. Artinya, jarak tempat yang terdapat pada peta setelah diubah menggunakan skala peta tidak mengalami penyimpangan.

Pada saat peta mengalami proyeksi, tidak semua ketetapan tersebut dapat dijalankan. Oleh karena itu, muncul beberapa macam proyeksi yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Umumnya, satu macam proyeksi benar untuk salah satu syarat dengan mengorbankan syarat lain. kadang-kadang, proyeksi-proyeksi tersebut hanya tepat untuk suatu lokasi tertentu. Dengan demikian, untuk tempat lain di muka bumi harus menggunakan proyeksi yang berbeda. Misalnya, proyeksi untuk daerah di sekitar garis khatulistiwa berbeda dengan proyeksi untuk daerah kutub.

Proses memindahkan bentuk permukaan bumi dari suatu bidang lengkung ke bidang datar, dapat digolongkan menurut distorsinya, posisi bidang proyeksi, bidang proyeksinya, dan berdasarkan letak titik pusat proyeksinya. Berikut ini akan dibahas tiga jenis proyeksi. Beberapa jenis proyeksi berdasarkan distorsi (kesalahan yang ingin dihindari) antara lain proyeksi konform, proyeksi ekuivalen, dan proyeksi ekuidistan.


a. Proyeksi konform/orthomorphic (arah sama) menunjukkan bentuk-bentuk sempit yang tetap di muka bumi. Pada proyeksi konform, sudut atau bentuk di permukaan bumi sama dengan bentuk pada peta. Proyeksi ini mempertahankan arah yang tetap, sehingga banyak digunakan untuk keperluan navigasi.

b. Proyeksi ekuivalen/equal area (luas sama) menunjukkan luas yang sama di muka bumi. Pada proyeksi ini, luas suatu daerah di muka bumi mempunyai ukuran yang sama dengan luas pada peta setelah dihitung menggunakan skala. Proyeksi equal area umumnya digunakan untuk peta persebaran yang memerlukan gambaran luas suatu wilayah.

c. Proyeksi equidistant (jarak tetap) menunjukkan bahwa jarak yang melalui pusat peta memiliki panjang yang tetap. Pada peta dengan proyeksi ini, jarak tempat di permukaan bumi sama dengan jarak tempat pada peta setelah dihitung menggunakan skala tertentu. Peta ini banyak digunakan untuk keperluan-keperluan yang menggunakan pusat peta sebagai inti kegiatan.

Berdasarkan posisi bidang proyeksi, kita mengenal tiga jenis proyeksi peta. Jenis-jenis proyeksi tersebut adalah proyeksi normal, proyeksi miring, dan proyeksi transversal.

· Proyeksi normal atau tegak, bila garis utama bidang proyeksi berhimpit dengan sumbu bumi.

· Proyeksi miring atau oblique, bila garis utama bidang proyeksi membentuk sudut dengan sumbu bumi.

· Proyeksi transversal atau melintang atau equantorial, bila garis utama bidang proyeksi memotong tegak lurus terhadap sumbu bumi.

Jenis-jenis proyeksi juga dapat dibedakan berdasarkan bidang proyeksinya. Untuk memproyeksikan bentuk elipsoida, diperlukan suatu bidang datar atau bidang yang bila didatarkan tidak mengalami penyimpangan lebih jauh. Misalnya, bidang silinder, kerucut, dan bidang datar itu sendiri. Bidang kerucut atau silinder dianggap tidak mengalami penyimpangan lebih jauh jika didatarakan. Hal tersebut karena pada bidang kerucut terdapat bagian cukup panjang yang dapat berhimpit dengan ekuator bumi.

Beberapa jenis proyeksi berdasarkan bidang proyeksinya adalah proyeksi silinder, proyeksi kerucut, dan proyeksi azimuthal.

a. Proyeksi silinder atau cylindrical memproyeksikan permukaan globe (bola bumi) pada bidang silinder . proyeksi jenis ini banyak digunakan untuk memproyeksikan daerah di sekitar ekuator.

b. Proyeksi kerucut atau conical memproyeksikan bola bumi pada bidang kerucut. Proyeksi jenis ini banyak digunakan untuk memproyeksikan daerah di mana permukaan bumi berhimpit dengan bidang kerucut, biasanya di sekitar 45o.

c. Proyeksi azimuthal atau zenithal memproyeksikan bola bumi di atas bidang datar. Proyeksi jenis ini paling tepat digunakan hanya pada satu daerah sempit (satu titik) yang berhimpit dengan globe.

5. Peta Grid

Grid merupakan jaring-jaring pada peta yang terdiri atas dua garis yang berpotongan. Kedua garis tersebut adalah garis vertikal yang mewakili garis meridian dan garis horisontal yang mewakili garis paralel. Dalam kaitan ini, grid berguna untuk menentukan koordinat suatu titik. Pada peta skala kecil, grid ini disebut sebagai gratikul. Grid terdiri atas garis lintang (menunjukkan arah utara-selatan) dan garis bujur (menunjukkan arah barat-timur).

Mengingat luasnya cakupan dari peta skala kecil tersebut, maka perpotongan lintang dan bujur tidak selalu tegak lurus. Hal ini terjadi karena panjang garis bujur yang berada di khatulistiwa dan di dekat kutub tidak sama.

6. Arah (Orientasi) Peta

Arah utara peta merupakan penduan bagi pengguna peta agar segera dapat melihat posisi tempat. Pada umumnya, bagian atas peta menunjukkan arah utara. Namun demikian, seringkali disebabkan bentuk wilayahnya, agak sulit membuat bagian atas peta sebagai arah utara. Untuk itu, diberikan petunjuk arah yang disebut orientasi peta. Bentuknya bermacam-macam, tetapi pada umumnya berbentuk anak panah dengan huruf U pada ujungnya.

7. Legenda

Legenda merupakan keterangan yang menjelaskan seluruh isi peta. Dengan menggunakan legenda, pengguna peta dapat mengerti arti simbol-simbol yang digunakan. Legenda juga membantu pengguna peta untuk mengetahui arti-arti dari seluruh isi peta. Legenda pada peta merupakan semacam kamus yang digunakan saat membaca peta.

Membaca Peta

Dalam geografi, peta berfungsi untuk menunjukkan letak/lokasi suatu data atau kenampakan di permukaan bumi. Dengan mengetahui lokasi pasti dari suatu objek tersebut dengan lingkungannya dapat dikaji. Selain itu, peta juga berfungsi untuk menentukan arah dan jarak suatu tempat, serta memperlihatkan bentuk-bentuk permukaan bumi atau kenampakan seperti lautan, daratan, dan gunung.

Dalam geografi, peta memegang peranan yang penting, yaitu untuk menjelaskan suatu gejala yang terjadi di permukaan bumi dengan menggunakan data objek yang terdapat dalam peta. Hasil dari pengolahan dan analisis data tersebut, kemudian dapat dilaporkan juga dalam bentuk peta.

Adapun tujuan pembuatan peta antara lain untuk memberikan informasi yang dibutuhkan dalam perencanaan tata kota atau pemukiman, serta menyimpan data mengenai kenampakan yang ada di permukaan bumi.

Membaca peta berarti membaca dan memahami simbol-simbol yang digunakan dalam peta sebagai pengganti kenampakan di permukaan bumi.

Menentukan Lokasi Industri

Lokasi industri berkenaan dengan bagaimana menilai atau mengkaji penempatan suatu kegiatan industri. Hal ini berkaitan dengan tepat atau tidaknya pemilihan lokasi suatu industri. Lokasi industri harus diperhitungkan dengan cermat berdasarkan faktor tertentu. Pemilihan lokasi industri yang tidak tepat akan berdampak pada kemajuan usaha industri yang bersangkutan.

Misalnya, jika kita melakukan usaha pembuatan bahan makanan yang cepat rusak atau basi, tentunya kita tidak dapat melakukan usaha tersebut jauh dari tempat konsumen makanan tersebut. Lokasi usaha tersebut tentunya akan berdekatan dengan lokasi pembeli makanan tersebut. Sebaliknya, jika kita melakukan usaha pembuatan barang tertentu yang jika pengangkutan bahan bakunya ke tempat pegolahan sangat mahal, makanya sebaiknya kita menempatkan industri tersebut di tempat yang dekat dengan sumber bahan baku yang digunakan. Misalnya industri kayu lapis umumnya akan memilih lokasi yang berdekatan dengan hutan sebagai sumber bahan bakunya.

Dengan demikian, pemilihan lokasi industri mempunyai arti yang sangat penting, sebab hal tersebut akan memengaruhi perkembangan dan kelangsungan proses serta kegiatan industri yang bersangkutan. Faktor-faktor yang memengaruhi dan perlu menjadi perhitungan dalam penentuan pilihan lokasi industri disebut faktor lokasi. Faktor-faktor tersebut antara lain bahan mentah, pasar, sarana, iklim, peraturan, sumber energi, sarana transportasi, dan penyediaan air.

Masalah pemilihan lokasi ini timbul umumnya karena unsur-unsur yang menjadi faktor lokasi tersebut tidak selalu terdapat di daerah yang sama dan sering terpencar. Oleh karena itu berdasarkan faktor-faktor tersebut di atas, maka kecenderungan lokasi industri adalah sebagai berikut.

1. Industri yang cenderung ditempatkan dekat bahan mentah

Industri yang ditempatkan di daerah bahan mentah merupakan industri yang membutuhkan bahan mentah dalam jumlah besar, segar, dan mengalami susut banyak dalam proses pengolahannya. Misalnya, industri yang mengolah hasil-hasil pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan.

2. Industri yang cenderung ditempatkan dekat sumber tenaga

Industri yang ditempatkan di sumber tenaga merupakan industri yang banyak memerlukan energi (bahan bakar). Misalnya, industri peleburan bijih, industri besi baja, pabrik alumunium.

3. Industri yang cenderung ditempatkan dekat sumber tenaga kerja


Industri yang ditempatkan di daerah sumber tenaga kerja merupakan industri yang memerlukan tenaga terampil atau ahli (skill labour) dengan kemampuan khusus. Misalnya, industri permata, industri kacamata, industri pakaian, atau industri kerajianan.

4. Industri yang cenderung ditempatkan dekat pasar

Industri yang ditempatkan di daerah pasaran merupakan industri yang menggunakan bahan baku atau bahan mentah yang mudah diperoleh atau didatangkan. Misalnya, industri perakitan, industri makanan, dan industri pakaian.

Beberapa jenis industri mungkin saja bisa ditempatkan di manapun (foot-lose industry). Namun demikian, jenis industri seperti ini umumnya akan memilih daerah pasaran sebagai lokasinya. Misalnya industri makanan, industri minuman, industri kulit (sepatu), dan industri pakaian.

Pemiliha industri di negara-negara maju, seperti di Eropa maupun di Amerika Utara, umumnya menunjukkan tiga hal.

Pertama, daerah tersebut merupakan sumber bahan baku terutama bijih besi.

Kedua, daerah tersebut merupakan daerah sumber energi terutama batu bara.

Ketiga, daerah tersebut juga merupakan daerah pasaran. Di Indonesia, saat ini penempatan dan lokasi industri cenderung ke daerah pasaran.

Selain memperhatikan faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan lokasi industri seperti diuraikan sebelumnya, perlu juga dilakukan analisis atau kajian lapangan yang memperhitungkan faktor geografis. Beberapa faktor geografis yang dikaji sehubungan dengan pemilihan lokasi industri tersebut adalah kondisi geologi, geomorfologi, tanah, air, dan iklim. Untuk mengkaji faktor-faktor tersebut maka kita memerlukan bantuan peta yang menggambarkan kondisi geologi, morfologi, sebaran air, dan iklim.

Dengan memperhatikan faktor-faktor geografis, diharapkan penentuan lokasi industri dapat dilakukan dengan lebih akurat.

Misalnya, Pak Arif adalah seorang investor yang akan menanamkan modalnya di sebuah wilayah Y. Namun, sebelum Pak Arif harus memutuskan bidang yang akan dikembangkan, apakah pertanian atau industri. Untuk menentukan bidang tersebut, Pak Arif dan sejumlah konsultan mengadakan analisis lapangan. Setelah melakukan analisis lapangan, ia menemukan bahwa daerah Y merupakan wilayah yang secara geologis tersusun dari batuan kapur. Dengan sendirinya tanah di wilayah ini di dominasi oleh tanah kapur. Investor tersebut juga menemukan bahwa kondisi geomorfologi wilayah ini berbukit dan bergelombang. Curah hujan di wilayah ini relatif rendah, dengan demikian persebaran air tanah dan air permukaannya pun relatif terbatas. Setelah mengkaji hasil analisis lapangan, akhirnya Pak Arif memutuskan untuk menanamkan modalnya dalam bidang industri. Karena wilayah Y sangat kaya akan kapur, Pak Arif memutuskan untuk membangun pabrik semen.

Setelah mempelajari bab ini, kamu tentu sudah memahami apa yang dimaksud dengan peta dan pemetaan. Tentunya tidak hanya sekedar memahami pengertian, kamu juga harus bisa menggunakan peta dalam kehidupa sehari-hari.

Ada lagi materi yang berkaitan erat dengan peta dan pemetaan, yaitu penginderaan jauh. Materi penginderaan jauh sangat menarik dan aplikatif.

Mau tahu?

Silahkan baca pembahasannya pada bab berikutnya Penginderaan Jauh


Demikianlah Artikel Peta dan Pemetaan

Sekianlah postingan Peta dan Pemetaan kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sedang membaca artikel Peta dan Pemetaan dengan alamat link https://blog.panduanstartup.com/2017/11/peta-dan-pemetaan.html

0 comments:

Post a Comment